Sunday, August 20, 2017

Dahlan Iskan : Kerja itu Hobi

sumber : merdeka.com

Khatam sudah buku Ganti Hati seharga sepuluh ribu dalam sebulan terakhir.  Buku yang diterbitkan 5 tahun lalu, setelah sebelumnya dimuat bersambung di Koran Jawa Pos. Banyak hal yang saya pelajari dari kisah tentang transplantasi hati dibalik cerita menjadi Dirut PLN dan Menteri BUMN.

Gaya bahasa yang lugas jauh dari rasa pamer. Bahkan ketika  Dahlan bercerita tentang membeli helikopter beberapa bulan menjelang operasi di Tiongkok. Dalam pandangan masa depannya,  bisa jadi pasca operasi  fisik nya jatuh terpuruk hingga  mobilitasnya terbatas. Nyatanya cerita berbeda 180 derajat.Fisiknya tetap prima. Aktivitas sebagai pejabat negara  justru memaksanya melakukan perjalan berhari-hari menggunakan moda darat  maupun udara. Tentu tanpa melupakan obat  yang harus di minum sehari 2x tepat jam 5 pagi dan jam 5 sore.

Sunday, August 6, 2017

Disiplin dan Kerja Keras, Ramuan Sukses Dahlan Iskan


Bahwa dengan membaca buku  bisa membuka wawasan , saya percaya itu. Dua minggu lalu saya menemukan Ganti Hati-nya Dahlan Iskan seharga sepuluh ribu rupiah only diantara tumpukan Gramedia Fair. Seperti kebetulan yang indah, karena baru saja terprovokasi mencari  buku-buku karya Dahlan  Iskan setelah membaca  salah satu tulisan dalam buku Karya Literasi Kotomono Ehaka . Sebagai sesama wartawan, Ehaka (alm) paham betul bahwa  bahwa Dahlan Iskan adalah  sedikit dari  pemilik media yang BISA nulis.

Saat dulu membeli buku Anak Singkong-nya Chaerul Tanjung, sebelum ada stempel bestseller, saya baru tahu, bahwa bisnis konglomerasinya bukan karena keturunan. Begitupun dengan Dahlan Iskan. Lahir dan besar di desa pelosok Surabaya dengan segala keterbatasan tidak membuat mimpinya sederhana. Menikmati kemiskinan yang struktural, begitu salah satu ungkapan dalam buku Ganti Hati. Sejak  menjadi wartawan Tempo  hingga mengakuisisi sebuah  media yang hampir bangkrut di Surabaya , disiplin tinggi adalah salah satu kunci kesuksesannya membesarkan Jawa Pos Grup.

Berangkat pagi pulang dini hari adalah ritme kerja awal Dahlan saat membangun Jawa Pos.  Kerja kerasnya berimplikasi langsung pada hasil luar biasa karena Jawa Pos tumbuh tidak hanya seperti cita-cita awal , separuh dari oplah Surabaya Pos, namun justru melampuinya. Menjadi  koran nasional dan selanjutnya  media yang menggurita di banyak kota  Indonesia.


Tuesday, August 1, 2017

Berebut Kursi, Pernik Undang-Undang Pemilu

sumber :okezone.com(24.7.2017)

DPR baru saja mengesahkan Undang-Undang Pemilu , Jumat lalu seperti dilansir okezone.com, yang sebelumnya sudah diwarnai drama walkout. Prosentase Presidensial Threshold adalah salah satu sebab runcingnya jalan pengambilan putusan. Pun banyak pihak yang berteriak akan mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi.

Perebutan kursi, itulah yang di perdebatkan para orang pintar itu. Menilik tulisan EH Kartanegara (alm) yang diterbitkan Suara Merdeka (07/10/2004), bahwa dalam budaya Jawa dahulu, mengejar kursi atau jabatan, dianggap saru(tidak pantas). Sementara sekarang justru terbalik, jika ada politisi yang tidak mengejar kursi justru dianggap tidak lincah mengambil kesempatan. Maka jangan heran jika untuk mendapatkannya banyak dilakukan manipulasi data, menabrak rambu hukum hingga politik uang.

Sayangnya banyak orang malas membuka file-file record pejabat periode lalu.Banyak orang malas belajar dari kitab suci politik seperti The Nicomachean Ethnics karya Aristoteles yang mendeskripsikan bagaimana memahami kearifan politik.

Jika ada calon pejabat sowan kepada para kiai, bukan karena mereka ingin belajar agama,tentang kearifan, keluhuran dan kejujuran,  melainkan memohon dukungan dan restu. Politik bukanlah jalan lurus, melainkan berliku dan bercabang ke berbagai arah. Ada banyak kemungkinan menantang untuk dimainkan, termasuk kemungkinan bertambah kisruh. Bisa jadi disinilah “gurihnya” berpolitik.
Setelah kursi diraih dengan penuh pengorbanan (dan mungkin tumbal) dan berbiaya tinggi, mungkinkah janji kampanye yang melangit demi terwujudnya bangsa beradab adil dan makmur akan diwujudkan? 

Sejarah politik bangsa memberi pelajaran jika sebuah kursi dikejar dengan ambisi untuk menguasai dan bukan mengayomi tak akan pernah mampu membersihkan segala apapun yang  kotor.

Indonesia masih punya harapan, karena di beberapa daerah telah hadir sosok pemimpin selayak Umar bin Abdul Aziz yang rela meninggalkan semua limpahan kekayaan demi menjadi khalifah dan bersama umat membangun kesejahteraan. Sosok-sosok tersebut hadir semacam oase, dalam keresahan korupsi yang membudaya.

*disadur dari salah satu tulisan dalam buku karya EH Kartanegara (alm), jurnalis asal Pekalongan.
Karya Literasi "Kotomono Ehaka" 
Penerbit Burung Merak Press, Juni 2017


Sunday, July 30, 2017

Sajian Bolu Labu Kuning

Welcome Sunday  
Rencana mau menghadiri  Kajian  Ahad Pagi di Masjid sekolah Keenan, apa daya si balita itu susah pisan dibangunkan. Plus emaknya masih pegel lengan dan betis pasca berenang Sabtu pagi. Hiyalah, setelah off hampir dua bulan tidak cipak-cipik mainan air, setelah lewat bulan Syawal baru bisa nyebur lagi. So ngapain libur begini? Jadual kondangan menunggu ! Tapi itu nanti siang, pagi ini mau ekseskusi yellow pumpkin yang sudah  berumur 1 bulan, astaga basi ga ya? Of course ,no!  Soalnya itu pumpkin bulet yang dibeli jaman Ramadhan untuk olahan menu buka puasa, diletakkan di tray kulkas .

Setiap kali searching “resep…….” Pastilah cookpad.com yang nampak di urutan paling atas. Nyatanya saya belum pernah eksekusi resep hasil dari situs tersebut. Menurut saya resep di cookpad seringnya terlalu sederhana, tanpa tips and trik ehehe. Web masak favorite saya adalah milik mbak Endang yaitu www.justtryandtaste.com  alias JTT. Rada susah ya vocabnya, tapi containnya sungguh membantu pemasak pemula  macam saya. Owner nya sendiri juga bukan koki apalagi chef restoran terkenal. Tetaplah  perempuan pekerja dengan beragam kesibukan namun mempunyai hobi masak. Serunya selalu ada tips trik cara mengolah atau memperoleh bahan baku. Saya tebak koleksi buku resepnya pastilah bejibun , bisa dilihat dari aneka ragam makanan dan kue yang dikreasikan. Baik menu khas Indonesia, maupun mancanegara.

Namun untuk resep kue kali ini, saya coba menggunakan resep cookpad postingan Ibu Farin.

BOLU KUKUS LABU KUNING

Thursday, July 27, 2017

5 Pilihan Seru Berakhir Pekan

Salah satu muasal peraturan menteri pendidikan yang menyoal gagasan  sekolah fullday adalah  interaksi anak dan orangtua akan  lebih banyak dilakukan kala libur weekend tiba . Saat salah satu atau kedua orang tua bekerja  dengan jadual 5 hari kerja, maka hari Sabtu – Minggu menjadi family time. Tentu tidak melulu harus dengan bepergian keluar kota yang akan membutuhkan bujet banyak.
 Simak ide liburan akhir pekan yang murah meriah :
1.     Memasak Menu Favorit
Jika pada hari biasa keluarga hanya punya kesempatan sarapan bersama, kala akhir pekan bisa menikmati 3 kali waktu makan bersama.
Salahsatu menu yang seru dieksekusi  bersama anggota keluarga adalah ayam/ikan  bakar. Malas kipas-kipas pakai arang ? Sudah tersedia wajan tebal khusus untuk memanggang  sehingga mudah digunakan diatas kompor gas.  Lebih seru lagi jika bahan baku sambal, sebagai pelengkap menu bakaran ,  yaitu cabe dan tomat diperoleh dari hasil
berkebun sendiri . Sedaaap :-)
sumber:etimologist.com

Menurut Ratih, bukan kemewahan hasil makanan yang dicari dalam aktivitas memasak bersama, tetapi kualitas relasi antar anggota keluarga, ungkap Psikolog alumni Universitas Indonesia yang diungkapkan dalam laman antaranews.com (7/4/2015)



Saturday, July 22, 2017

Benarkah Kenakalan Remaja itu, Genetis ?

Benarkah Kenakalan Remaja itu, Genetis ?
Penulis : imangsimple

Suatu hari Bapak membawa bayi laki-laki berpipi chubby dari rumah keluarga di pesisir selatan Jawa Timur. Dean Prilia, nama yang disematkan pada bayi berkulit putih itu. Orang tuanya sudah lama berpisah. Ibu Dean memilih berkelana menjadi pekerja di luar negeri, sedangkan sang Ayah enggan merawat anak yang belum genap berumur setahun. Jadilah kehadiran Dean melengkapi keramaian keluarga kami.

Nuri, adikku,  terlihat kurang menyukai kehadiran Dean. Mungkin karena perhatian Bapak dan Ibu mulai terbagi setelah kehadiran lelaki kecil bermata bulat itu. Diumur yang belum genap enam tahun, Nuri menjadi murid termuda.  Rengekan manjanya membuat Ibu sering menemani Nuri melewati setahun pertama Sekolah Dasar. Tentu saja sembari  membawa serta Dean yang baru belajar melangkahkan kaki-kaki kecilnya.

Dean tumbuh menjadi anak yang lucu dan aktif.  Setiap  lebaran datang,  kami sekeluarga pulang ke Pacitan untuk bersilaturahim dengan keluarga Bapak sekaligus memberi  kesempatan Dean bertemu orang tuanya. Terpikir jikalau orang tua Dean ingin merawat anaknya sendiri. Nyatanya, setiap kali kami kembali ke Magelang, kembali pula Dean kami ajak serta. Ayah Dean sama sekali tidak tergerak untuk  mendidik sendiri buah hatinya. Hanya berjanji akan mengirim uang setiap bulan untuk biaya sekolah Dean. Sementara sang Ibu, entah sedang berada dimana, cukup sulit dihubungi.

Friday, July 7, 2017

Jodoh, Takdir yang Bisa Diusahakan

I'm interested in everything that concerns you
Tetes bening mengalir tanpa isak , Sukma mengalihkan pandangan dari layar berukuran 3,7 inchi tersebut. Ini adalah hari ke 93 sejak Janu berangkat meraih mimpinya di benua seberang. Mimpi yang selalu didengungkannya sejak 15 tahun lalu. Ya, sejak mereka jumpa pertama kali di depan Balairung UGM. Lamanya mimpi itu terwujud merembes pada lamanya kepastian tentang kesabaran diri menunggu. Terpisah pulau tak serta merta memisahkan keterikatan batin yang terjalin sejak lama,meski berseliweran orang-orang lain mencoba mengetuk pintu hati.

Hingga kabar itu datang. Kabar  tentang lolosnya beasiswa ke negeri Kanguru. Sukma merasa gembira sekaligus gelisah. Gembira, karena setelah penantian panjang,  senyum lebar  Janu Nampak jelas saat menyapanya dalam video call, sesaat setelah semua dokumen lengkap, siap berangkat. Sesungguhnya tinggal selangkah lagi, setelah lulus Master, Janu berjanji. Namun entah  deru angin darimana, semakin dekat kepergian Janu, Sukma semakin  gelisah, hatinya berdesir setiap membayangkan perpisahan itu. Perbedaan pulau tempat tinggal , jarang bertemu secara fisik,  hanya sapaan melalui smartphone tak meresahkannya. Namun berbeda benua, berasa lain.

Thursday, July 6, 2017

Teman dalam Selubung Kompetisi

Sebulan terakhir, mulai memaknai hal berbeda mengenai pertemanan, profesionalisme dan kompetisi. Secara sadar dalam berucap dan bertindak setiap orang mengindikasikan minat , potensi, suka dan tidak suka pada sesuatu hal. Meski tidak secara gamblang bisa terbaca, setidaknya gesture tidak mengalihkan yang sebenarnya . Keenan yang baru  berusia 5 tahun, kadang-kadang berbohong dengan sengaja, misal bilang belum lapar. Begitu di sodori roti Maryam bertabur selai , langsung lahap. Bukan bohong, tapi ga mau makan pakai rendang :-(

Ketika saya bertemu teman dan menanyakan kabar  sedang beliau menjawab dengan sekilas tanpa bertatap mata dan grogi, jadi bertanya. Ada apa ? Kemudian bertemu teman lain, yang berjanji memberikan sesuatu yang saya butuhkan. Dengan alasan aneka rupa, canceled. Aneh.

Berteman dan berkompetisi menurut saya  adalah hal yang bisa seiring sejalan tanpa harus meniadakan. Di era digital sekarang, kompetisi bukan lagi head to head dengan mematikan pihak lain. Justru dengan mencari ceruk pasar lain. Memberikan diferensiasi yang  justru menguntungkan end user bukan dengan menjegal  langkah kompetitor.
It’s so yesterday.
Jadul
Ndeso

Bersiap dengan perubahan atau tergilas jaman.
Bukan tentang pilihan tapi tindakan nyata.

Sudah era FINTECH, masih saja diribetkan

Saturday, June 24, 2017

Mudik Lancar Via Jalan Tol Fungsional Batang-Semarang

tayang di ucweb (23/6/2017)

Pengoperasian Jalan Tol Fungsional (JTF) Batang-Semarang, cukup efektif mengurai kemacetan di jalur Pantura, terutama kota Pekalongan dan kab Batang yang tidak memiliki jalan lingkar (ring road). Pengalaman tahun-tahun sebelumnya pada H-4 jalan sudah padat dan pihak kepolisian membuat pembatasan  di As jalan sehingga mengurangi simpangan atau tikungan kendaraan dari warga lokal. Sedang tahun 2017, perlakuan tersebut baru dilakukan pada H-3 pada lokasi tertentu. Jalan pantura Pekalongan-Batang pun cukup bersahabat.

Sementara itu pemudik dari Jakarta arah ke Semarang terlihat lancar melalui JTF paket I jembatan Pasekaran Batang. Sesuai himbauan Kepala Humas PT Jasa Marga Semarang-Batang Iwan Abrianto ,yang dilansir tempo.com (22/6/2017) , agar kendaraan dipacu maksimal 40km / jam. Hal ini dikarenakan sifat darurat jalan tol yang masih berupa beton tipis, pun masih banyak material di sepanjang jalan.

Friday, June 9, 2017

5 Jurus Bijak Menghabiskan THR

photo :waktuku 19122016 (edited)
Bulan Ramadhan dan menjelang hari raya sering diidentikkan dengan budaya konsumtif. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) , konsumtif berarti bersifat konsumsi (hanya memakai, tidak menghasilkan sendiri). Sedang dalam pengertian populer perilaku konsumtif didefinisikan sebagai perilaku membeli barang atau jasa yang berlebihan, walaupun tidak dibutuhkan (Moningka, 2006). Misal gonta-ganti gawai setahun 4 kali  atau ganti mobil setiap tahun. Namun jika hanya membeli aneka hidangan yang di hari biasa tidak dilakukan, kemudian menjelang buka puasa menjadi kewajiban, bukanlah konsumtif. Seringkali hanya lapar mata, karena tiba saat adzan Maghrib berkumandang, 3 butir kurma dan segelas air bening sudah Masya Allah nikmatnya.

Menjadi perilaku konsumtif saat setiap bulan membeli pakaian baru, sementara saat hari raya juga memaksa untuk membeli pakaian baru minimal  2 stel, sandal baru, tas baru, cincin dan gelang berkilau. Nah, yang demikian itu memang membudaya di Indonesia. Lebaran menjadi salah satu ajang pencapaian tidak hanya dari sisi spiritual namun lebih dominan juga secara materi, dengan peampilan secara lahiriah.

Saturday, June 3, 2017

Choctar - versi lain Nastar

RAMADHAN 1438 H
Day  8th

Sabtu ini saya belanja telur dan tepung. Hasrat membuat kue kering sendiri sedang membuncah. Tidak untuk dijual, tapi untuk konsumsi sendiri.  Buat ngisi toples. Buat ngisi meja tamu. Meski biasanya habis di makan sendiri :-p. Dua tahun lalu pernah semangat membuat coklat praline untuk dijual.  Dan 23 toples itu berhasil membuat saya begadang seminggu J.

Balik ke masa kecil, saat dulu belum banyak  orang berjualan kue kering , saya, ibu dan kakak-kakak setiap 3 hari menjelang lebaran akan sibuk membuat aneka  penganan semacam nastar, cheesestick, dan cookies . Bahkan sirup pun, kami buat sendiri dengan membeli essense  jeruk dicampur gula. Alasan utama tentu saja hemat pangkal enak.

Nastar adalah target pertama karena ini kesukaan  si Ayah. Sedang target selanjutnya kastengels, favorite saya. Karena saya malas membuat selai nanas sendiri  plus ingin berbeda dengan kebanyakan orang, saya  ganti selai nanas dengan potongan coklat.  Yes, saya memang  chocolate lover. Jadilah Choctar

Mendapat  resep dasar Nastar  versi Ny.Liem dari  sini 

CHOCTAR modify
Bahan A:
- 150 gram mentega   (saya pakai Blue Band)
- 150 gram margarine (saya pakai Blue Band)
- 1 sendok teh vanila ekstrak (  stok habis :-p)
- 1 butir telur (putih + kuning)
- 1 kuning telur
- 100 gram gula bubuk (saya haluskan gula pasir dengan blender)
- 1/2 sendok teh esens susu (saya tidak pakai)

Bahan B, ayak menjadi satu:
- 40 gram susu bubuk  (nemu dancow putih 27gram)
- 500 gram tepung terigu protein sedang (serba guna), resep asli 475 gram

Bahan C untuk olesan: (ternyata 1 butir kuning telur cukup, tanpa pewarna tambahan)
- 3 butir kuning telur
- 1 sendok makan air
- 1 sendok teh minyak goreng
- 2 - 3 tetes pewarna makanan kuning telur

Bahan D:
- selai nanas untuk isi nastar (saya ganti dark chocolate yang dipotong kecil)

Cara membuat: 
Siapkan loyang datar untuk memanggang kue kering. Alasi permukaannya dengan kertas baking. Sisihkan. Bulatkan masing-masing selai nanas menjadi bulatan kecil sebesar kacang merah. Letakkan di piring lebar. Sisihkan.
Siapkan mangkuk mikser, masukkan bahan A. Kocok dengan speed sedang hingga tercampur dengan mengembang dan lembut. Matikan mikser. Masukkan bahan B, sedikit demi sedikit sambil diaduk dengan menggunakan spatula hingga menjadi adonan yang tercampur dengan baik.

Timbang adonan masing-masing seberat 10 gram. Letakkan satu buah adonan di telapak tangan, pipihkan. Beri satu buah bulatan selai di tengah-tengah adonan, tutup adonan sehingga selai tertutup dengan baik. Bulatkan adonan dan gelindingkan di telapak tangan hingga permukaanya halus. Anda juga bisa membentuknya menjadi lonjong.


Bagian paling melelahkan dari membuat nastar adalah saya tidak memiliki mesin yang bisa mencetak bulatan kecil secara otomatis. Jadilah adegan menggelinding dan membulatkan adonan  cukup melelahkan punggung.  Mungkin karena  mengocok mentega terlalu lama, maka kue choctar  imut  jadi menggendut bin menggemaskan.

Belum layak diplay di bakery karena bentuknya tidak standar. Besar, kecil, bulat, oval J. Tapi menurut saya sudah lebih baik dari sebulan lalu saat ujicoba pertama.  Karena khawatir kue tidak matang, malah terlalu lama dalam oven menjadikan kue terlalu coklat.
Kali ini warnanya sudah cantik J

Friday, June 2, 2017

Menikmati Proyek Jalan Tol Batang

RAMADHAN  1438
Day 6th

Bulan April – Juni  ini sungguh panen libur. Jika  April ada 2 pack long weekend, bulan Mei  ada 2 libur hari Kamis lanjut tanggal 1 Juni libur lagi hari Pancasila. Aish, liburan apalage ?! Pada banyak orang, berkali-kali tanggal merah itu menyenangkan. Anak sekolah apalagi, hurrayJ Pekerja kantoran  ? Hurray pakai banget, jauh-jauh hari dilingkari untuk cuti versi celebrity on vacation . Namun untuk sebagian lain, liburan berkali-kali sedikit mengganggu dan un-productive. Ketika target belum tercapai, ngos-ngosan juga dengan berkali-kali jeda apalagi jika berhubungan dengan pengurusan hal-hal birokratis.

Kamis lalu, libur yang kesekian , dan saya begitu menikmati (karena kamis yang lain tetap ngantor :-) Asyik juga ternyata libur  ditengah weekdays. Hari itu kami berjanji pada Keenan untuk jalan-jalan melihat tol. Iya proyek jalan tol  Pemalang-Batang-Semarang melalui  daerah dekat rumah. Si Ayah sudah sering bersepeda offroad saat pembukaan  jalur jalan sedang berjalan. Sementara kemarin kami  menggunakan kendaraan roda dua.  Semula target operasional jalur tol tahun 2018, namun kemudian dipercepat agar bisa digunakan pada  jelang Idul Fitri 2017, minimal satu jalur pada pagi-siang hari. Sepanjang yang saya lihat pada jalur Batang, pada hari ke 6 bulan Ramadhan, baru 20% yang  menggunakan lean concrete. Selebihnya masih berupa tanah yang sudah dipadatkan. Cukup nyaman untuk dilewati pada hari cerah.


Ada banyak cerita dibalik pembangunan tol  di banyak daerah. Terutama dalam hal ganti untung pembebasan lahan. Banyak yang tiba-tiba kaya mendadak karena tanah kebunnya dihargai 10x lipat. Kemudian  banyak marketing bank mendekat J. Ada yang galau karena rumah kenang-kenangan dari orangtua harus direlakan. Ada yang keukeuh tak mau melepaskan sejengkal tanah rumahnya dengan alasan harga yang tidak sepadan. Maka jalan tol yang berbelok atau rumah ditengah jalan tol kadang masih ditemui, meski biasanya pemerintah dengan jargon –kepentingan- rakyat- banyak- tetap berkuasa.

Kabupaten Batang adalah  suatu daerah di timur Pekalongan. Proyek pembangunan jalan tol dan PLTU di pantai Ujungnegoro  berhasil merubah kondisi geografis dan perekonomian (sebagian ) masyarakat. Pembangunan infrastruktur jalan gencar dilakukan. Pembangunan hotel kian masif di daerah sebelah, yaitu kota batik Pekalongan.


Kemudian segala kemudahan infrastruktur membuat hasrat piknik  semakin menggelora. Mareee J

Thursday, June 1, 2017

Memilih pilihan

RAMADHAN 1438H
Day 5th

Laayasy robanna akhaduminkum qooimaa
Janganlah kamu minum sambil berdiri

Salah satu hadits yang paling sering diucapkan Keenan. Meaning, emaknya sering lupa :-p. Belajar bersama anak menjadi salah satu pola yang mengemuka saat ini. Iya system pembelajaran 20 tahun lalu tentu jauh berbeda dengan saat generasi Y mulai berinteraksi aktif dengan pengetahuan dari berbagai sumber. Pilihan atau memilihkan cara belajar bagi anak menjadi hal krusial yang dipikirkan. Tidak seperti jaman saya kecil, sekolah ya di SD dekat rumah. Sore hari sekolah Arab, dan malam hari mengaji di Mushola. Sesekali  bersama Bapak sema’an di rumah.

Sekarang ada banyak pilihan sekolah baik negeri  maupuan swasta dengan berbagai predikat. Seringkali biaya mengikuti. ‘Merk ga bakal bohong’ . Bahkan semakin banyak pesantren modern (baca: boarding school) yang ber kualitas. Diluar itu ada pula yang justru memilih model homeschooling (hs). Beberapa kisah yang saya baca hasil browsing ;jika dilakukan langsung oleh orangtua; keuntungan hs adalah kedekatan anak dan orangtua. Memacu kreativitas orangtua dalam memberikan pelajaran sesuai dengan keunikan masing-masing anak. Interaksi  intens untuk mengerti suatu hal tidak hanya dari textbook.

Paling  baru saya sedang membaca lembaga pendidikan milik Ustadz Budi Azhari ,   https://kuttabalfatih.com/kenapa-di-kuttab-al-fatih-tidak-ada-fasilitas-bermain/  yang secara mendasar  TIDAK MENGGUNAKAN metode belajar sambil bermain. Semua kurikulum berdasarkan kitab-kitab yang ditulis ilmuwan Muslim.
Penjelasannya sebagai berikut :


Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholeh. Aamiin.