Saturday, December 12, 2015

Bromo, Piknik Di Saat Yang Tepat

April 2009, adalah tahun saya mencanangkan bahwa tahun depan akan ke gunung Bromo. Saat itu baru selesai trip ke Karimunjawa bersama teman-teman backpacker yang baru saya kenal onsite, onday. Iya kenal saat tiba di Semarang, dalam perjalanan menuju Karimunjawa Jepara. Dan cita-cita itu terus mengendap di otak sebelah kanan beriring dengan khayalan yang meminta segera jadi kenyataan. Ngenes saat melihat teman-teman lain yang sudah bisa berfoto di gunung Penanjakan berlatar Gunung Bromo. Dan sampai medio  2015 saya belum juga merealisasikan mimpi itu.
Apa sih yang menarik dari gunung Bromo selain adegan photo-photo. Saya belum paham sampai kemudian saya sampai disana, Minggu 8 November 2015.


September 2015, keinginan untuk piknik semakin membara  gegara agenda piknik kantor yang tidak jelas kapan tejadinya. Mari  arrange piknik sendiri saja . Yeaaaha golek bolo patungan sek. Jadilah nemu 13 orang yang siap jalan bareng. Siap fisik dan siap uang!  Ada 3 pilihan saat itu, Lombok, Pangandaran dan Bromo. Vote paling banyak Bromooooo. Mulailah saya memilih tanggal, mencari jadual Kereta Api dan mencari biro travel. Dari 4 biro travel yang saya hubungi, pilihan jatuh pada heliostransport.com , Malang. Kenapa Helios ? Karena  penawaran harga negotiable.  Ada rincian pengeluaran sehingga total harga menjadi harga paket, untuk selanjutnya menjadi iuran per orang. Ditambah lagi Pak Agus, sang komandan, sangat mudah dihubungi, via WA sekalipun. Harga paket Rp.700.000/orang dengan itenary kebun petik apel  dan museum Angkut di Batu Malang, lanjut Taman Nasional Gunung Bromo. Harga sudah termasuk kamar hotel dan sewa jeep.
Setelah tanggal disepakati yaitu 7-8 November, pembelian tiket kereta harus segera dilakukan. Maklum seiring perbaikan layanan perkeretaapian, mulai dari ticketing, gerbong AC, sampai kebersihan toilet stasiun menjadikan Kereta Api menjadi moda andalan yang cukup murah. Murah jika kita membeli 90 hari sebelum hari  H, namun kemarin saya membeli tiket untuk 13 orang pada H-40 sudah dapat harga termahal ketiga. Hadeuuuhh.
Rencana awal saya akan menggunakan kereta Pekalongan-Malang kelas ekonomi Jayabaya atau Bangunkarta dengan pertimbangan harga murah gila ! Hanya Rp.115.000,- Namun kemudian saya batalkan karena membayangkan lelahnya perjalanan 10 jam dalam kereta berbangku 3 dengan lebar kursi minimalis. Jadilah mencari  kereta pengganti berlabel, Bisnis !. Ternyata tidak ada rangkaian kereta api bisnis sampai ke Malang, maka rute kereta pun  berganti Pekalongan –Surabaya. Gotcha! Gumarang Rp.255.000 dan Harina Rp.280.000,- Sebenarnya ada kereta api eksekutif Jakarta – Malang, sayangnya tidak lewat stasiun Pekalongan, melainkan lewat jalur selatan. Nyatanya pilihan saya tidak salah, kereta api bisnis nyaman dengan kursi manusiawi untuk diduduki selama perjalanan 6 jam. Berikut pilhan jadual kereta ke Surabaya ,Malang dari Pekalongan , atau cek langsung ke situs resmi tiket.keretaapi.co.id atau favorit saya tiket.com.
Berangkat:
1.      Gumarang       Jkt-Pkl-Smg-Sby                     Eks/Bis/Ek     
2.      Harina             Bdg-Pkl-Smg-Sby                   Eks/Bis/Ek
3.      Bima                Jkt-Malang                              Eks
4.      Gajayana         Jkt-Malang                              Eks
5.      Matarmaja       Jkt-Pkl-Smg-Mlg                     Ek
6.      Jayabaya          Jkt-Pkl-Smg-Mlg                     Ek
7.      Majapahit        Jkt-Pkl-Smg-Mlg                     Ek


Berangkat  Jumat, 7 November 2015 pukul 21.21dari stasiun Pekalongan dan tiba 03.40 di stasiun Pasar Turi Surabaya, molor 15 menit dari jadual 3.20. Mengendarai taxi bermobil Avanza menuju kawasan Ampel untuk istirahat dan mandi. Ongkos taxi Rp.60.000,- untuk perjalanan sekitar 10menit. Lama perjalanan berubah tajam menjadi 40menit saat jarum jam menunjukkan angka 06.00. Mobil travel oren gonjreng berjudul Helios sudah datang tepat jam 06.00. In time, karena kami janjian jam 7. Namun karena beberes dan sarapan  belum usai, tetaplah kami berangkat tepat pukul 07.00. Malang We come !
Wait, kenapa ke Malang, tidak langsung menuju Bromo? Yup kami ingin petik apel dulu dan penasaran ingin berwisata ke Museum Angkut. Recommended kata teman-teman yang sudah berkunjung.
Menempuh perjalanan sekitar 3 jam kami sampai ke Batu, Malang untuk menikmati wisata petik apel di kebun warga. Kenyang Apel Malang yang rasanya manis asem.Segeeeerrr. Tiket masuk  20.000, gratis  makan apel dan minum sari apel sampai kembung di lokasi. Jika ingin bawa pulang bayar dikasir Rp.20.000/kg. Mahal ! karena di pinggir jalan harga apel hanya Rp.15.000/kg, itupun apel dengan size yang besar. Tapi udah kadung beli 5 kg sayaaaah.
Selanjutnya Museum Angkut, tiket masuk (terusan museum topeng)Rp.90.000 kala weekend sedang hari biasa Rp.75.000. Harga anak dengan tinggi tubuh lebih dari 80cm dihitung seperti orang dewasa.
Mengunjungi museum angkut sebaiknya seharian dari pagi sampai sore,karena areanya sangat luas yaitu 3,7 hektar. Koleksi alat angkut pun sangat banyak  mulai dari sepeda, sepeda motor, mobil  dari jaman dahulu hingga kini  dengan setting dari berbagai Negara Amerika dan Eropa. Suasana dibangun mirip sebuah jalanan di kota-kota luar negeri. Keren, keren, kerrren. Sayangnya balita saya, Keenan 4 tahun, tidak bisa diam, lari kesana kemari. Jadilah belum selesai menikmati tiap jenis moda, tangan sudah ditarik-tarik.Hadeuuuh. Bahkan adegan photo gaya pun amat sedikit karena kalau kelamaan Keenan akan menghilang dari pandangan mata. Bahayyyaaa.








Komplek Museum angkut juga dilengkapi dengan foodcourt yang memadai, jangan khawatir kelaparan saat asyik selfie.
Perjalanan penting selanjutnya menuju Bromo. Pukul 16.30 rombongan berangkat menuju Probolinggo disertai gerimis yang cukup membuat menggigil. Setelah mampir makan malam Warung Ndeso Probolinggo, pukul 21.30 sampai juga di Hotel Yochy. Arsitekturnya mencontek konsep rumah Bali. Etnik. Sayang, kebersihan kamar  nilai 6!
Jam 03.00 kami semua sudah nangkring dalam jeep bersiap menuju Bromo, termasuk balitaku, Keenan yang bertanya," Kenapa kita pergi malam-malam, Bunda". 
Harga sewa jeep kapasitas 5 orang Rp.550.000 s/d Rp.700.000 tergantung dimana lokasi hotel.  Dalam perjalanan menuju Gunung Penanjakan 1, sekitar 2 km, traffic cukup padat. Iya, ternyata pengunjung banyak sekali. Namun driver jeep meyakinkan sepadat ini 45 menit cukup untuk sampai Puncak Panajakan, Hot Spot setinggi 2770 mdpl, untuk melihat sunrise  Gunung Bromo dengan fenomena negeri di atas awan. Subhanallah, luar biasa indah memang. Semburat merah sinar matahari menerangi deretan Gunung Batok ,Gunung Bromo dengan kaldera sangat luas dan Gunung Semeru.

Setelah puas menikmati sunrise, selanjutnya menuju kawah Gunung Bromo dan Pasir Berbisik.
Gunung Bromo berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ketinggian Gunung Bromo 2329 mdpl.



Lautan manusia, lautan pasir, lautan kuda, lautan jeep. Ada 450 jeep dan 400 kuda. Saat turun dari jeep penunggang kuda akan menawari dengan harga tertinggi 120ribu sampai bawah tangga. Saya memilih, tidak, nanti saja. Sudah punya senjata, naik kudanya nanti saja. Dan benar sampai di batas datar menuju tangga, sawa tawar naik kuda hanya 75ribu bolak balik .Yeayy emak hemat.!
Melewati tiket menuju kawah Bromo terpasang  spanduk peringatan “sejak 1 November 2015 ,status waspada. Radius aman 1km.
Dan benar saja, saat  mendaki 249 anak tangga menuju kawah, Keenan yang sudah semangat melangkahi tangga demi tangga menjadi  kecewa, karena saya memutuskan segera balik badan, menuruni tangga di sisi kanan. Asap berbau belerang menyengat sungguh mengkhawatirkan. Nanggung memang,  turun di 2/3 tangga atas. (Hitungan Keenan kami berhenti di anak tangga 80, musti belajar berhitung lagi dia hehe). Toh saya tak mau bertaruh keselamatan saya, suami dan anak saya. Beberapa orang yang berpapasan juga menyarankan hal yang sama. “Kasihan adiknya, Bu.”
Skenario buruknya, anak balita tidak cukup kuat dan bisa memilih kapan lari turun karena sekedar memakai masker penutup hidung  dan sarung tangan saja Keenan tidak mau.
Sementara kawan-kawan lain tetap melanjutkan sampai atas. Selfie sebentar dan bersegera turun.

Perjalanan berlanjut ke kawasan lautan Pasir Berbisik.  Lokasi ini berupa hamparan pasir maha luas. Sebelumnya kawasan ini tak bernama sampai kemudian sutradara Garin Nugrono menemukan lokasi ini untuk syuting film ‘Pasir Berbisik’, maka kondanglah wilayah ini hingga mancanegara. Sejatinya saya tidak mendengar bisikan pasir yang teriup angin, namun Keenan sangat menikmati bermain pasir sementara saya dan teman-teman tetap pose !


Dan sungguh tepat pilihan saya dan teman-teman berpiknik di hari Minggu, 8 November 2015. Karena lima hari kemudian status Gunung Bromo naik ke Siaga II. Dan hari ini, 12 Desember 2015, gempa tremor semakin sering terjadi, hujan abu mengarah ke barat daya sampai radius 5 km
Alhamdulilah, kesana disaat yang tepat.