Saturday, June 24, 2017

Mudik Lancar Via Jalan Tol Fungsional Batang-Semarang

tayang di ucweb (23/6/2017)

Pengoperasian Jalan Tol Fungsional (JTF) Batang-Semarang, cukup efektif mengurai kemacetan di jalur Pantura, terutama kota Pekalongan dan kab Batang yang tidak memiliki jalan lingkar (ring road). Pengalaman tahun-tahun sebelumnya pada H-4 jalan sudah padat dan pihak kepolisian membuat pembatasan  di As jalan sehingga mengurangi simpangan atau tikungan kendaraan dari warga lokal. Sedang tahun 2017, perlakuan tersebut baru dilakukan pada H-3 pada lokasi tertentu. Jalan pantura Pekalongan-Batang pun cukup bersahabat.

Sementara itu pemudik dari Jakarta arah ke Semarang terlihat lancar melalui JTF paket I jembatan Pasekaran Batang. Sesuai himbauan Kepala Humas PT Jasa Marga Semarang-Batang Iwan Abrianto ,yang dilansir tempo.com (22/6/2017) , agar kendaraan dipacu maksimal 40km / jam. Hal ini dikarenakan sifat darurat jalan tol yang masih berupa beton tipis, pun masih banyak material di sepanjang jalan.

Friday, June 9, 2017

5 Jurus Bijak Menghabiskan THR

photo :waktuku 19122016 (edited)
Bulan Ramadhan dan menjelang hari raya sering diidentikkan dengan budaya konsumtif. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) , konsumtif berarti bersifat konsumsi (hanya memakai, tidak menghasilkan sendiri). Sedang dalam pengertian populer perilaku konsumtif didefinisikan sebagai perilaku membeli barang atau jasa yang berlebihan, walaupun tidak dibutuhkan (Moningka, 2006). Misal gonta-ganti gawai setahun 4 kali  atau ganti mobil setiap tahun. Namun jika hanya membeli aneka hidangan yang di hari biasa tidak dilakukan, kemudian menjelang buka puasa menjadi kewajiban, bukanlah konsumtif. Seringkali hanya lapar mata, karena tiba saat adzan Maghrib berkumandang, 3 butir kurma dan segelas air bening sudah Masya Allah nikmatnya.

Menjadi perilaku konsumtif saat setiap bulan membeli pakaian baru, sementara saat hari raya juga memaksa untuk membeli pakaian baru minimal  2 stel, sandal baru, tas baru, cincin dan gelang berkilau. Nah, yang demikian itu memang membudaya di Indonesia. Lebaran menjadi salah satu ajang pencapaian tidak hanya dari sisi spiritual namun lebih dominan juga secara materi, dengan peampilan secara lahiriah.

Saturday, June 3, 2017

Choctar - versi lain Nastar

RAMADHAN 1438 H
Day  8th

Sabtu ini saya belanja telur dan tepung. Hasrat membuat kue kering sendiri sedang membuncah. Tidak untuk dijual, tapi untuk konsumsi sendiri.  Buat ngisi toples. Buat ngisi meja tamu. Meski biasanya habis di makan sendiri :-p. Dua tahun lalu pernah semangat membuat coklat praline untuk dijual.  Dan 23 toples itu berhasil membuat saya begadang seminggu J.

Balik ke masa kecil, saat dulu belum banyak  orang berjualan kue kering , saya, ibu dan kakak-kakak setiap 3 hari menjelang lebaran akan sibuk membuat aneka  penganan semacam nastar, cheesestick, dan cookies . Bahkan sirup pun, kami buat sendiri dengan membeli essense  jeruk dicampur gula. Alasan utama tentu saja hemat pangkal enak.

Nastar adalah target pertama karena ini kesukaan  si Ayah. Sedang target selanjutnya kastengels, favorite saya. Karena saya malas membuat selai nanas sendiri  plus ingin berbeda dengan kebanyakan orang, saya  ganti selai nanas dengan potongan coklat.  Yes, saya memang  chocolate lover. Jadilah Choctar

Mendapat  resep dasar Nastar  versi Ny.Liem dari  sini 

CHOCTAR modify
Bahan A:
- 150 gram mentega   (saya pakai Blue Band)
- 150 gram margarine (saya pakai Blue Band)
- 1 sendok teh vanila ekstrak (  stok habis :-p)
- 1 butir telur (putih + kuning)
- 1 kuning telur
- 100 gram gula bubuk (saya haluskan gula pasir dengan blender)
- 1/2 sendok teh esens susu (saya tidak pakai)

Bahan B, ayak menjadi satu:
- 40 gram susu bubuk  (nemu dancow putih 27gram)
- 500 gram tepung terigu protein sedang (serba guna), resep asli 475 gram

Bahan C untuk olesan: (ternyata 1 butir kuning telur cukup, tanpa pewarna tambahan)
- 3 butir kuning telur
- 1 sendok makan air
- 1 sendok teh minyak goreng
- 2 - 3 tetes pewarna makanan kuning telur

Bahan D:
- selai nanas untuk isi nastar (saya ganti dark chocolate yang dipotong kecil)

Cara membuat: 
Siapkan loyang datar untuk memanggang kue kering. Alasi permukaannya dengan kertas baking. Sisihkan. Bulatkan masing-masing selai nanas menjadi bulatan kecil sebesar kacang merah. Letakkan di piring lebar. Sisihkan.
Siapkan mangkuk mikser, masukkan bahan A. Kocok dengan speed sedang hingga tercampur dengan mengembang dan lembut. Matikan mikser. Masukkan bahan B, sedikit demi sedikit sambil diaduk dengan menggunakan spatula hingga menjadi adonan yang tercampur dengan baik.

Timbang adonan masing-masing seberat 10 gram. Letakkan satu buah adonan di telapak tangan, pipihkan. Beri satu buah bulatan selai di tengah-tengah adonan, tutup adonan sehingga selai tertutup dengan baik. Bulatkan adonan dan gelindingkan di telapak tangan hingga permukaanya halus. Anda juga bisa membentuknya menjadi lonjong.


Bagian paling melelahkan dari membuat nastar adalah saya tidak memiliki mesin yang bisa mencetak bulatan kecil secara otomatis. Jadilah adegan menggelinding dan membulatkan adonan  cukup melelahkan punggung.  Mungkin karena  mengocok mentega terlalu lama, maka kue choctar  imut  jadi menggendut bin menggemaskan.

Belum layak diplay di bakery karena bentuknya tidak standar. Besar, kecil, bulat, oval J. Tapi menurut saya sudah lebih baik dari sebulan lalu saat ujicoba pertama.  Karena khawatir kue tidak matang, malah terlalu lama dalam oven menjadikan kue terlalu coklat.
Kali ini warnanya sudah cantik J

Friday, June 2, 2017

Menikmati Proyek Jalan Tol Batang

RAMADHAN  1438
Day 6th

Bulan April – Juni  ini sungguh panen libur. Jika  April ada 2 pack long weekend, bulan Mei  ada 2 libur hari Kamis lanjut tanggal 1 Juni libur lagi hari Pancasila. Aish, liburan apalage ?! Pada banyak orang, berkali-kali tanggal merah itu menyenangkan. Anak sekolah apalagi, hurrayJ Pekerja kantoran  ? Hurray pakai banget, jauh-jauh hari dilingkari untuk cuti versi celebrity on vacation . Namun untuk sebagian lain, liburan berkali-kali sedikit mengganggu dan un-productive. Ketika target belum tercapai, ngos-ngosan juga dengan berkali-kali jeda apalagi jika berhubungan dengan pengurusan hal-hal birokratis.

Kamis lalu, libur yang kesekian , dan saya begitu menikmati (karena kamis yang lain tetap ngantor :-) Asyik juga ternyata libur  ditengah weekdays. Hari itu kami berjanji pada Keenan untuk jalan-jalan melihat tol. Iya proyek jalan tol  Pemalang-Batang-Semarang melalui  daerah dekat rumah. Si Ayah sudah sering bersepeda offroad saat pembukaan  jalur jalan sedang berjalan. Sementara kemarin kami  menggunakan kendaraan roda dua.  Semula target operasional jalur tol tahun 2018, namun kemudian dipercepat agar bisa digunakan pada  jelang Idul Fitri 2017, minimal satu jalur pada pagi-siang hari. Sepanjang yang saya lihat pada jalur Batang, pada hari ke 6 bulan Ramadhan, baru 20% yang  menggunakan lean concrete. Selebihnya masih berupa tanah yang sudah dipadatkan. Cukup nyaman untuk dilewati pada hari cerah.


Ada banyak cerita dibalik pembangunan tol  di banyak daerah. Terutama dalam hal ganti untung pembebasan lahan. Banyak yang tiba-tiba kaya mendadak karena tanah kebunnya dihargai 10x lipat. Kemudian  banyak marketing bank mendekat J. Ada yang galau karena rumah kenang-kenangan dari orangtua harus direlakan. Ada yang keukeuh tak mau melepaskan sejengkal tanah rumahnya dengan alasan harga yang tidak sepadan. Maka jalan tol yang berbelok atau rumah ditengah jalan tol kadang masih ditemui, meski biasanya pemerintah dengan jargon –kepentingan- rakyat- banyak- tetap berkuasa.

Kabupaten Batang adalah  suatu daerah di timur Pekalongan. Proyek pembangunan jalan tol dan PLTU di pantai Ujungnegoro  berhasil merubah kondisi geografis dan perekonomian (sebagian ) masyarakat. Pembangunan infrastruktur jalan gencar dilakukan. Pembangunan hotel kian masif di daerah sebelah, yaitu kota batik Pekalongan.


Kemudian segala kemudahan infrastruktur membuat hasrat piknik  semakin menggelora. Mareee J

Thursday, June 1, 2017

Memilih pilihan

RAMADHAN 1438H
Day 5th

Laayasy robanna akhaduminkum qooimaa
Janganlah kamu minum sambil berdiri

Salah satu hadits yang paling sering diucapkan Keenan. Meaning, emaknya sering lupa :-p. Belajar bersama anak menjadi salah satu pola yang mengemuka saat ini. Iya system pembelajaran 20 tahun lalu tentu jauh berbeda dengan saat generasi Y mulai berinteraksi aktif dengan pengetahuan dari berbagai sumber. Pilihan atau memilihkan cara belajar bagi anak menjadi hal krusial yang dipikirkan. Tidak seperti jaman saya kecil, sekolah ya di SD dekat rumah. Sore hari sekolah Arab, dan malam hari mengaji di Mushola. Sesekali  bersama Bapak sema’an di rumah.

Sekarang ada banyak pilihan sekolah baik negeri  maupuan swasta dengan berbagai predikat. Seringkali biaya mengikuti. ‘Merk ga bakal bohong’ . Bahkan semakin banyak pesantren modern (baca: boarding school) yang ber kualitas. Diluar itu ada pula yang justru memilih model homeschooling (hs). Beberapa kisah yang saya baca hasil browsing ;jika dilakukan langsung oleh orangtua; keuntungan hs adalah kedekatan anak dan orangtua. Memacu kreativitas orangtua dalam memberikan pelajaran sesuai dengan keunikan masing-masing anak. Interaksi  intens untuk mengerti suatu hal tidak hanya dari textbook.

Paling  baru saya sedang membaca lembaga pendidikan milik Ustadz Budi Azhari ,   https://kuttabalfatih.com/kenapa-di-kuttab-al-fatih-tidak-ada-fasilitas-bermain/  yang secara mendasar  TIDAK MENGGUNAKAN metode belajar sambil bermain. Semua kurikulum berdasarkan kitab-kitab yang ditulis ilmuwan Muslim.
Penjelasannya sebagai berikut :


Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholeh. Aamiin.