Saturday, July 22, 2017

Benarkah Kenakalan Remaja itu, Genetis ?

Benarkah Kenakalan Remaja itu, Genetis ?
Penulis : imangsimple

Suatu hari Bapak membawa bayi laki-laki berpipi chubby dari rumah keluarga di pesisir selatan Jawa Timur. Dean Prilia, nama yang disematkan pada bayi berkulit putih itu. Orang tuanya sudah lama berpisah. Ibu Dean memilih berkelana menjadi pekerja di luar negeri, sedangkan sang Ayah enggan merawat anak yang belum genap berumur setahun. Jadilah kehadiran Dean melengkapi keramaian keluarga kami.

Nuri, adikku,  terlihat kurang menyukai kehadiran Dean. Mungkin karena perhatian Bapak dan Ibu mulai terbagi setelah kehadiran lelaki kecil bermata bulat itu. Diumur yang belum genap enam tahun, Nuri menjadi murid termuda.  Rengekan manjanya membuat Ibu sering menemani Nuri melewati setahun pertama Sekolah Dasar. Tentu saja sembari  membawa serta Dean yang baru belajar melangkahkan kaki-kaki kecilnya.

Dean tumbuh menjadi anak yang lucu dan aktif.  Setiap  lebaran datang,  kami sekeluarga pulang ke Pacitan untuk bersilaturahim dengan keluarga Bapak sekaligus memberi  kesempatan Dean bertemu orang tuanya. Terpikir jikalau orang tua Dean ingin merawat anaknya sendiri. Nyatanya, setiap kali kami kembali ke Magelang, kembali pula Dean kami ajak serta. Ayah Dean sama sekali tidak tergerak untuk  mendidik sendiri buah hatinya. Hanya berjanji akan mengirim uang setiap bulan untuk biaya sekolah Dean. Sementara sang Ibu, entah sedang berada dimana, cukup sulit dihubungi.

Usia 4 tahun, Dean divonis terkena flek paru-paru. Selama hampir 9 bulan Ibu bersusah payah setiap hari memaksa Dean meminum obat racikan dokter. Raungan tangisnya sering terdengar nelangsa. Tugasku memegang erat  tangan Dean saat Ibu menuangkan sesendok obat ke dalam mulutnya. Sampai di suatu masa, atas saran seorang kerabat, diperoleh informasi bahwa salah satu obat penyembuh flek paru-paru adalah meminum lendir siput darat.  Bapak terlihat enggan menuruti nasehat tersebut. Biarlah menuruti resep dokter saja. Hingga suatu sore Dean pulang ke rumah, lepas bermain, membawa siput darat dan meminta ibu mengolahnya. Aku saja jijik melihat makhluk bercangkang itu. Lain dengan Ibu yang sabar menuruti kemauan Dean. Setelah itu , hampir setiap hari Dean dengan gagah membawa pulang obat tradisional tersebut. 
Bisa jadi  karena memang sudah waktunya, 9 bulan terlewati,  Dean dinyatakan sembuh dari flek paru-paru. Alhamdulillah , sumringah wajah Bapak dan Ibu saat dokter menyatakan Dean tak perlu meminum obat lagi.

Prestasi Dean di sekolah tidak terlalu bagus. Anak bandel , itu cap dari guru sekolahnya. Tidak seperti aku dan Nuri yang dahulu kala di  Sekolah Dasar selalu mendapat rangking 10 besar, Dean justru sebaliknya. Sepuluh besar terakhir! Puncaknya di kelas 3 SD, dia dinyatakan tidak naik kelas. Duaar! Anak pak tentara tidak naik kelas! Bapak marah saat mendengar berita tersebut. Beliau baru saja menyandarkan badan usai pulang kerja saat Ibu menyerahkan rapot Dean yang terbakar. Wajah lelahnya  yang  dibalur keringat tampak semakin berkilat.

Aku sendiri  tidak merasa berbeda dalam memperlakukan  Nuri atau Dean. Mereka adalah  adik-adikku yang manis. Begitu pula Bapak dan Ibu. Justru aku merasa Dean sedemikian dimanja karena semua keinginan seperti  mainan atau makanan selalu dipenuhi. Alasan Bapak, karena uangnya berasal dari Ayah Dean. Aku pernah marah atas hal tersebut. Tidak adil!.

Suatu hari Ibu mendapat surat panggilan dari Kepala Sekolah Dasar Sukorejo III. Dahi Ibu berkerut membaca undangan dalam amplop coklat panjang. Sebenarnya cukup sering Ibu diundang wali kelas karena kenakalan atau perkembangan kemampuan belajar Dean yang kurang  optimal. Kasus pertama, Dean sering tertidur pada jam sekolah. Saat ditanya guru, dia beralasan mengantuk karena lapar, tidak sarapan. Mendengar cerita itu, alarm kewarasanku berdering , tidak pantas Dean bermuslihat seperti itu. Jelas-jelas setiap pagi kami berlima sarapan di meja yang sama. Ada yang konslet dengan otak anak itu.

Namun kali ini Kepala Sekolah yang memanggil. Bagi Ibu ini berbeda, pasti ada sesuatu yang lebih dahsyat. Aku baru pulang dari latihan voli saat menemukan Ibu menangis di kamar. Bapak pulang tak lama setelah kusodorkan segelas teh hangat untuk Ibu.
“Dean ketahuan meminum miras oplosan di bengkel dekat pasar.”  Cerita Ibu terbata-bata sambil memegang erat tangan Bapak.  Wajah Bapak memerah. Rahangnya mengembang menahan amarah. Aku usap punggung Bapak untuk menurunkan emosi. Tidak lama aku memilih keluar kamar dan menutup pintu. Kusingkirkan sabuk kopel yang biasa digantung di ruang salat. Sepatu lars kusimpan di dapur. Aku bersegera keluar rumah mencari Dean.  Kalau memang Bapak akan menghajar Dean, biarlah dilakukan di rumah. Bapak pernah memarahi Dean di rental PS karena tertangkap merokok. Bapak menyeretnya pulang.  Para tetangga miris melihatnya. Sedemikian sayang Bapak pada Dean, namun di saat  yang bersamaan Bapak bisa sedemikian murka atas kesalahan fatal Dean.
Kini, di usianya yang  baru 12 tahun, Dean sudah coba-coba minum cairan haram.
pic:produsenbajubayi




Esok harinya aku menemani Bapak menuju sekolah. Akibat kejadian tersebut, Kepala Sekolah menyatakan akan mengeluarkan Dean. Bapak memohon maaf atas kesalahan Dean dan memohon kebijakan agar  diberi kesempatan untuk  tetap belajar di sekolah. Bapak lebih banyak menunduk saat Kepala Sekolah banyak memberi penjelasan.
“Begitu dia lulus, akan saya kembalikan kepada orang tuanya.  Saya sudah tidak sanggup.” Lirih suara Bapak mengakhiri pertemuan sambil menjabat erat tangan Kepala Sekolah.

Sejak itu Bapak menjadi jauh lebih pendiam. Senyum semakin jarang menghiasi raut kerasnya. Aku sering memergoki mata Ibu berkaca-kaca. Betapa aku sebagai anak sulung berusaha memahami  perasaan Bapak dan Ibu.  Kami sekeluarga kesulitan mengerti bagaimana Dean bisa menjadi pribadi yang berbeda dengan  kami. Meskipun aku sendiri belum bisa setiap hari istiqomah mengaji dan Nuri masih sering bolos TPQ, setidaknya kami tidak pernah se-ka-li-pun membuat malu orang tua sampai harus di panggil Kepala Sekolah. Dean bukan anak angkat di keluargaku. Walaupun bukan adik kandungku,  dia tetaplah adik sepupuku, yang dirawat Bapak dan  Ibu  setulus hati. Bibitnya tidak bagus, begitu saya dengar selentingan dari kerabat.  Faktor Genetis. Sang Ayah ..bla…bla…bla… Sang Ibu …bla..bla..bla…. Nyeri telinga menusuk hati  mendengar suara negatif tentang Dean.

Setahun berlalu,  rumah kami berenergi kembali. Tidak ada lagi raungan sepeda motor racikan anak 12 tahun, yang membuat telinga berdenging. Orang tua macam mana, yang mengirimkan sepeda motor baru untuk anak belia, saat nilai sekolahnya jauh dari bagus. Sang Ibu pernah menelpon Bapak,  marah-marah karena dianggap tidak mampu merawat Dean. Masya Allah! Rasanya ingin membalas perkataan itu dengan kalimat lebih sadis mengenai ketidakpedulian dan ketidakhadirannya sebagai ibu. Alhamdulillah semua itu hanya bersarang di pikiranku saja. Berhenti di tenggorokan. Tidak terucap. Bapak pun  sudah jauh lebih sabar, tidak ditanggapi omongan tersebut. Hidup kami normal kembali.

Hingga lebaran lalu, lepas Ashar hari kedua, Bapak pulang piket membawa seorang anak lelaki berambut pirang. Tingginya sama dengan Bapak. Kulitnya kecoklatan efek dari terik matahari. What ? Dean ? Maka keriuhan  berkumpul dengan sanak saudara seketika berubah menjadi kegelisahan. Dean seolah menjadi tersangka. Kami duduk melingkar, mendengar penuturannya. Dengan suara serak dia bercerita bahwa sang Ayah sudah seminggu tidak mengajaknya bicara paska dia pulang pagi menonton sepak bola di Kediri. Dean memilih  melakukan perjalanan 10 jam menggunakan bus dan kereta api dari Pacitan. Uangnya habis saat tiba di stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Dean menelpon  Bapak minta dijemput. Seandainya Bapak abaikan permintaan tersebut, mungkin sekarang dia sudah menggelandang.

Aku berinisiatif menelpon  Paklik Wawan, ayah Dean, bersandiwara  menanyakan kabar anaknya. Suara di seberang menyatakan bahwa Dean sudah tidak pulang  2 hari. Ini bukan kali pertama. Paklik tidak berniat mencari. Dean sering pergi tanpa pamit. Nanti kalau uangnya habis, pasti pulang, itu alasan Paklik. Tidak terdengar nada khawatir dalam suaranya.  Aku bungkam, tidak menyatakan bahwa Dean ada di rumah Magelang.

Dean ingin kembali sekolah di Magelang saja, tidak sanggup tinggal satu rumah dengan Ayah dan Ibu tirinya. Bekas lebam  kutemukan di lengan dan kaki.  Ibu mendesah panjang dan terus beristighfar. Keputusan yang  tidak mudah. Beliau memilih memanjangkan doa dalam  sujud di sepertiga malam terakhir.

Aku berharap ada keajaiban dalam karakter Dean.  Fisiknya tumbuh menjulang selayak orang dewasa. Namun mentalnya belum bisa bertanggung jawab. Mungkin lingkungan pondok pesantren salah satu pilihan yang  bisa menangkis dari pengaruh teman yang  buruk.  Perlu orang khusus untuk membantu mengarahkan energi millenialnya yang membludak. Aku berharap belum sangat terlambat untuk membelokkan pola pikirnya ke jalan yang benar.




No comments:

Post a Comment