Friday, July 7, 2017

Jodoh, Takdir yang Bisa Diusahakan

I'm interested in everything that concerns you
Tetes bening mengalir tanpa isak , Sukma mengalihkan pandangan dari layar berukuran 3,7 inchi tersebut. Ini adalah hari ke 93 sejak Janu berangkat meraih mimpinya di benua seberang. Mimpi yang selalu didengungkannya sejak 15 tahun lalu. Ya, sejak mereka jumpa pertama kali di depan Balairung UGM. Lamanya mimpi itu terwujud merembes pada lamanya kepastian tentang kesabaran diri menunggu. Terpisah pulau tak serta merta memisahkan keterikatan batin yang terjalin sejak lama,meski berseliweran orang-orang lain mencoba mengetuk pintu hati.

Hingga kabar itu datang. Kabar  tentang lolosnya beasiswa ke negeri Kanguru. Sukma merasa gembira sekaligus gelisah. Gembira, karena setelah penantian panjang,  senyum lebar  Janu Nampak jelas saat menyapanya dalam video call, sesaat setelah semua dokumen lengkap, siap berangkat. Sesungguhnya tinggal selangkah lagi, setelah lulus Master, Janu berjanji. Namun entah  deru angin darimana, semakin dekat kepergian Janu, Sukma semakin  gelisah, hatinya berdesir setiap membayangkan perpisahan itu. Perbedaan pulau tempat tinggal , jarang bertemu secara fisik,  hanya sapaan melalui smartphone tak meresahkannya. Namun berbeda benua, berasa lain.


“Saya akan menghitung saja. Berapa ? 500 hari ? 700 hari ? Saya janji tidak akan menghubungimu, Janu. Tidak dalam bentuk message apapun. Saya ingin kamu fokus belajar dan selesai cepat.” Sukma tegas berkata tanpa menoleh.  Ngurah Rai, terik sore itu.
Janu meraih bahu perempuan berkulit kuning itu. “Sukma, saya belum juga pergi. Kenapa justru kamu yang berencana pergi dari saya?” ucapnya lirih.
Sukma menunduk sambil menggenggam erat tangan Janu , “Saya sudah sangat lama nunggu kamu. Dua tahun itu sebentar, namun banyak hal yang bisa terjadi dalam rentang waktu tersebut.Yogya masih bisa saya kunjungi kapan saja, tapi New South Wales ? Saya memilih diam, hingga kamu pulang dan bertemu Ayah.”  Bola mata Sukma memanas, sulit menahan air tidak mengalir melewati pipi.
Janu  menggangguk dalam diusapnya pelan tetes bening di pipi Sukma ‘Saya janji. Saya akan segera menjemputmu.”

Sejak itu Sukma justru memilih keluar dari grup alumni kampus. Nomor handphone sengaja di nonaktifkan. Hanya sesekali Sukma melihat kabar Janu via Instagram. Kualitas jepretan photo yang diunggah Janu semakin terasah. He’s fine. Janu menikmati kehidupan baru disana. Teman Indonesia yang banyak  memudahkan semua urusan tempat tinggal hingga kendaraan.

Hingga minggu lalu Sukma menemukan perempuan berkerudung  lebar  yang menjadi obyek photo Janu di Sidney Darling Harbour membuatnya gamang.  Langit jingga terasa pas dengan warna merah kerudung itu. Dalam husnudzonnya, Sukma berpikir, mungkin itu hanyalah sekedar obyek photo tanpa sengaja. Sekedar orang yang kebetulan lewat. Sekedar background dari sunset sore itu. Wajahnya pun tak terlihat. Ingin, ingin sekali Sukma bertanya. Tapi untuk apa? Jikalah justru hal yang sebalik dari yang dia pikirkan, bukankah akan menyakitkan ?

Dan kemarin Sukma kembali melihat unggahan gambar bunga berwarna merah degan caption I’m interested  in everything concerns you

Sukma memilih bersimpuh , mengadu pada Nya. Mempertanyakan usaha terbaik yang sudah diupayakan. Mempertanyakan pertanda akan takdirnya. Bukankah jodoh adalah takdir yang bisa diusahakan ?

No comments:

Post a Comment