Sunday, August 20, 2017

Dahlan Iskan : Kerja itu Hobi

sumber : merdeka.com

Khatam sudah buku Ganti Hati seharga sepuluh ribu dalam sebulan terakhir.  Buku yang diterbitkan 5 tahun lalu, setelah sebelumnya dimuat bersambung di Koran Jawa Pos. Banyak hal yang saya pelajari dari kisah tentang transplantasi hati dibalik cerita menjadi Dirut PLN dan Menteri BUMN.

Gaya bahasa yang lugas jauh dari rasa pamer. Bahkan ketika  Dahlan bercerita tentang membeli helikopter beberapa bulan menjelang operasi di Tiongkok. Dalam pandangan masa depannya,  bisa jadi pasca operasi  fisik nya jatuh terpuruk hingga  mobilitasnya terbatas. Nyatanya cerita berbeda 180 derajat.Fisiknya tetap prima. Aktivitas sebagai pejabat negara  justru memaksanya melakukan perjalan berhari-hari menggunakan moda darat  maupun udara. Tentu tanpa melupakan obat  yang harus di minum sehari 2x tepat jam 5 pagi dan jam 5 sore.

Sunday, August 6, 2017

Disiplin dan Kerja Keras, Ramuan Sukses Dahlan Iskan


Bahwa dengan membaca buku  bisa membuka wawasan , saya percaya itu. Dua minggu lalu saya menemukan Ganti Hati-nya Dahlan Iskan seharga sepuluh ribu rupiah only diantara tumpukan Gramedia Fair. Seperti kebetulan yang indah, karena baru saja terprovokasi mencari  buku-buku karya Dahlan  Iskan setelah membaca  salah satu tulisan dalam buku Karya Literasi Kotomono Ehaka . Sebagai sesama wartawan, Ehaka (alm) paham betul bahwa  bahwa Dahlan Iskan adalah  sedikit dari  pemilik media yang BISA nulis.

Saat dulu membeli buku Anak Singkong-nya Chaerul Tanjung, sebelum ada stempel bestseller, saya baru tahu, bahwa bisnis konglomerasinya bukan karena keturunan. Begitupun dengan Dahlan Iskan. Lahir dan besar di desa pelosok Surabaya dengan segala keterbatasan tidak membuat mimpinya sederhana. Menikmati kemiskinan yang struktural, begitu salah satu ungkapan dalam buku Ganti Hati. Sejak  menjadi wartawan Tempo  hingga mengakuisisi sebuah  media yang hampir bangkrut di Surabaya , disiplin tinggi adalah salah satu kunci kesuksesannya membesarkan Jawa Pos Grup.

Berangkat pagi pulang dini hari adalah ritme kerja awal Dahlan saat membangun Jawa Pos.  Kerja kerasnya berimplikasi langsung pada hasil luar biasa karena Jawa Pos tumbuh tidak hanya seperti cita-cita awal , separuh dari oplah Surabaya Pos, namun justru melampuinya. Menjadi  koran nasional dan selanjutnya  media yang menggurita di banyak kota  Indonesia.


Tuesday, August 1, 2017

Berebut Kursi, Pernik Undang-Undang Pemilu

sumber :okezone.com(24.7.2017)

DPR baru saja mengesahkan Undang-Undang Pemilu , Jumat lalu seperti dilansir okezone.com, yang sebelumnya sudah diwarnai drama walkout. Prosentase Presidensial Threshold adalah salah satu sebab runcingnya jalan pengambilan putusan. Pun banyak pihak yang berteriak akan mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi.

Perebutan kursi, itulah yang di perdebatkan para orang pintar itu. Menilik tulisan EH Kartanegara (alm) yang diterbitkan Suara Merdeka (07/10/2004), bahwa dalam budaya Jawa dahulu, mengejar kursi atau jabatan, dianggap saru(tidak pantas). Sementara sekarang justru terbalik, jika ada politisi yang tidak mengejar kursi justru dianggap tidak lincah mengambil kesempatan. Maka jangan heran jika untuk mendapatkannya banyak dilakukan manipulasi data, menabrak rambu hukum hingga politik uang.

Sayangnya banyak orang malas membuka file-file record pejabat periode lalu.Banyak orang malas belajar dari kitab suci politik seperti The Nicomachean Ethnics karya Aristoteles yang mendeskripsikan bagaimana memahami kearifan politik.

Jika ada calon pejabat sowan kepada para kiai, bukan karena mereka ingin belajar agama,tentang kearifan, keluhuran dan kejujuran,  melainkan memohon dukungan dan restu. Politik bukanlah jalan lurus, melainkan berliku dan bercabang ke berbagai arah. Ada banyak kemungkinan menantang untuk dimainkan, termasuk kemungkinan bertambah kisruh. Bisa jadi disinilah “gurihnya” berpolitik.
Setelah kursi diraih dengan penuh pengorbanan (dan mungkin tumbal) dan berbiaya tinggi, mungkinkah janji kampanye yang melangit demi terwujudnya bangsa beradab adil dan makmur akan diwujudkan? 

Sejarah politik bangsa memberi pelajaran jika sebuah kursi dikejar dengan ambisi untuk menguasai dan bukan mengayomi tak akan pernah mampu membersihkan segala apapun yang  kotor.

Indonesia masih punya harapan, karena di beberapa daerah telah hadir sosok pemimpin selayak Umar bin Abdul Aziz yang rela meninggalkan semua limpahan kekayaan demi menjadi khalifah dan bersama umat membangun kesejahteraan. Sosok-sosok tersebut hadir semacam oase, dalam keresahan korupsi yang membudaya.

*disadur dari salah satu tulisan dalam buku karya EH Kartanegara (alm), jurnalis asal Pekalongan.
Karya Literasi "Kotomono Ehaka" 
Penerbit Burung Merak Press, Juni 2017