Tuesday, August 1, 2017

Berebut Kursi, Pernik Undang-Undang Pemilu

sumber :okezone.com(24.7.2017)

DPR baru saja mengesahkan Undang-Undang Pemilu , Jumat lalu seperti dilansir okezone.com, yang sebelumnya sudah diwarnai drama walkout. Prosentase Presidensial Threshold adalah salah satu sebab runcingnya jalan pengambilan putusan. Pun banyak pihak yang berteriak akan mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi.

Perebutan kursi, itulah yang di perdebatkan para orang pintar itu. Menilik tulisan EH Kartanegara (alm) yang diterbitkan Suara Merdeka (07/10/2004), bahwa dalam budaya Jawa dahulu, mengejar kursi atau jabatan, dianggap saru(tidak pantas). Sementara sekarang justru terbalik, jika ada politisi yang tidak mengejar kursi justru dianggap tidak lincah mengambil kesempatan. Maka jangan heran jika untuk mendapatkannya banyak dilakukan manipulasi data, menabrak rambu hukum hingga politik uang.

Sayangnya banyak orang malas membuka file-file record pejabat periode lalu.Banyak orang malas belajar dari kitab suci politik seperti The Nicomachean Ethnics karya Aristoteles yang mendeskripsikan bagaimana memahami kearifan politik.

Jika ada calon pejabat sowan kepada para kiai, bukan karena mereka ingin belajar agama,tentang kearifan, keluhuran dan kejujuran,  melainkan memohon dukungan dan restu. Politik bukanlah jalan lurus, melainkan berliku dan bercabang ke berbagai arah. Ada banyak kemungkinan menantang untuk dimainkan, termasuk kemungkinan bertambah kisruh. Bisa jadi disinilah “gurihnya” berpolitik.
Setelah kursi diraih dengan penuh pengorbanan (dan mungkin tumbal) dan berbiaya tinggi, mungkinkah janji kampanye yang melangit demi terwujudnya bangsa beradab adil dan makmur akan diwujudkan? 

Sejarah politik bangsa memberi pelajaran jika sebuah kursi dikejar dengan ambisi untuk menguasai dan bukan mengayomi tak akan pernah mampu membersihkan segala apapun yang  kotor.

Indonesia masih punya harapan, karena di beberapa daerah telah hadir sosok pemimpin selayak Umar bin Abdul Aziz yang rela meninggalkan semua limpahan kekayaan demi menjadi khalifah dan bersama umat membangun kesejahteraan. Sosok-sosok tersebut hadir semacam oase, dalam keresahan korupsi yang membudaya.

*disadur dari salah satu tulisan dalam buku karya EH Kartanegara (alm), jurnalis asal Pekalongan.
Karya Literasi "Kotomono Ehaka" 
Penerbit Burung Merak Press, Juni 2017


No comments:

Post a Comment