Sunday, August 20, 2017

Dahlan Iskan : Kerja itu Hobi

sumber : merdeka.com

Khatam sudah buku Ganti Hati seharga sepuluh ribu dalam sebulan terakhir.  Buku yang diterbitkan 5 tahun lalu, setelah sebelumnya dimuat bersambung di Koran Jawa Pos. Banyak hal yang saya pelajari dari kisah tentang transplantasi hati dibalik cerita menjadi Dirut PLN dan Menteri BUMN.

Gaya bahasa yang lugas jauh dari rasa pamer. Bahkan ketika  Dahlan bercerita tentang membeli helikopter beberapa bulan menjelang operasi di Tiongkok. Dalam pandangan masa depannya,  bisa jadi pasca operasi  fisik nya jatuh terpuruk hingga  mobilitasnya terbatas. Nyatanya cerita berbeda 180 derajat.Fisiknya tetap prima. Aktivitas sebagai pejabat negara  justru memaksanya melakukan perjalan berhari-hari menggunakan moda darat  maupun udara. Tentu tanpa melupakan obat  yang harus di minum sehari 2x tepat jam 5 pagi dan jam 5 sore.

“Kini saya punya dua Mercy. Yang satu, yang di rumah, adalah Mercy seri S500 tahun 2005 yang dibeli dengan harga Rp.3miliar. Satu lagi “Mercy” di kulit perut, bekas jahitan operasi. Jelek bentuknya. Tapi kira-kira harganya sama”. Begitu ucapan Dahlan saat ditanya berapa biaya yang dihabiskan. “Dari semua pengeluaran, operasinya sendiri hanya seharga rumah tipe menengah. Namun dana untuk pendukung operasi itu yang besar seperti sewa apartemen , karena menunggu lebih dari 3 bulan , sewa mobil, akomodasi dan konsumsi.”

Semua itu tentu sebanding dengan nilai kesehatan yang diperoleh. Imunisasi hepatitis yang dahulu seharga Rp.70.000,- , mahal. Sekarang,  jauh lebih mahal mengobati liver yang terinfeksi virus. Dahlan Iskan merasa jauh lebih beruntung ketimbang Nurcholish Majid yang mengalami infeksi paska operasi serupa.

Quote :
Waktu muda kerja mati-matian sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan.  Waktu tua menghabiskan kekayaan  untuk membeli kembali kesehatannya.

Banyak orang yang bekerja keras karena dorongan niat mulia dan kekayaan hanya datang membuntutinya.


Masih sulit mempercayai orang sedetil  Dahlan bisa  apes terkena vonis 2 tahun tahanan kota  dan denda Rp.100 juta berdasarkan putusan hakim tipikor Surabaya, seperti dilansir republika (21/4/2017), untuk kasus pelepasan aset BUMD dibawah harga NJOP.

Keadilan bukan (lagi) tentang orang baik dan benar. Juga tentang keberuntungan tidak diperkarakan (orang lain).

No comments:

Post a Comment