Sunday, August 6, 2017

Disiplin dan Kerja Keras, Ramuan Sukses Dahlan Iskan


Bahwa dengan membaca buku  bisa membuka wawasan , saya percaya itu. Dua minggu lalu saya menemukan Ganti Hati-nya Dahlan Iskan seharga sepuluh ribu rupiah only diantara tumpukan Gramedia Fair. Seperti kebetulan yang indah, karena baru saja terprovokasi mencari  buku-buku karya Dahlan  Iskan setelah membaca  salah satu tulisan dalam buku Karya Literasi Kotomono Ehaka . Sebagai sesama wartawan, Ehaka (alm) paham betul bahwa  bahwa Dahlan Iskan adalah  sedikit dari  pemilik media yang BISA nulis.

Saat dulu membeli buku Anak Singkong-nya Chaerul Tanjung, sebelum ada stempel bestseller, saya baru tahu, bahwa bisnis konglomerasinya bukan karena keturunan. Begitupun dengan Dahlan Iskan. Lahir dan besar di desa pelosok Surabaya dengan segala keterbatasan tidak membuat mimpinya sederhana. Menikmati kemiskinan yang struktural, begitu salah satu ungkapan dalam buku Ganti Hati. Sejak  menjadi wartawan Tempo  hingga mengakuisisi sebuah  media yang hampir bangkrut di Surabaya , disiplin tinggi adalah salah satu kunci kesuksesannya membesarkan Jawa Pos Grup.

Berangkat pagi pulang dini hari adalah ritme kerja awal Dahlan saat membangun Jawa Pos.  Kerja kerasnya berimplikasi langsung pada hasil luar biasa karena Jawa Pos tumbuh tidak hanya seperti cita-cita awal , separuh dari oplah Surabaya Pos, namun justru melampuinya. Menjadi  koran nasional dan selanjutnya  media yang menggurita di banyak kota  Indonesia.



Didapuk menjadi petinggi salah satu BUMN yaitu PLN, bukanlah mimpi Dahlan . Namun saat negara memberinya tugas mulia, dia jalankan dengan  sepenuh jiwa. Saat itu kanker hati sudah menggerogoti daya tahan tubuh kecilnya.  Hepatitis B adalah virus yang menyerang  ibu  dan kakak perempuan Dahlan sebagai akibat belum ada  vaksin masa dulu.

Sengaja membeli  rumah di dekat Pacifik Place,  Dahlan disiplin berjalan kaki menuju kantor pusat PLN di jalan Trunojoyo. Berangkat pukul 06.00, jalan kaki 35 menit, mandi di kantor. Maka jam 07.00 pagi sudah siap bekerja. Tidak menghuni rumah dinas dan tidak memakai mobil dinas. Dahlan berkomitmen membenahi PLN agar tidak terus merugi. Pasca sukses operasi  transplantasi hati, Dahlan wajib meminum obat sehari dua kali. Tak pernah boleh terlewat satu kali pun. Tepat pukul 05.00 pagi dan pukul 05.00 sore.  Bisa jadi disiplin minum obat itulah  merupakan rahasia Dahlan tetap sehat hingga kini.

Saya iri pada orang-orang yang sempat menjadi anak buah Dahlan Iskan. Budaya kerja yang dibangun dibarengi gaya kepemimpinannya yang egaliter membuat  memicusetiap pribadi untuk menunjukkan karya terbaiknya.

Saya sendiri terlahir sebagai anak kolong  dan tumbuh di lingkungan asrama tentara. Bangun sejak shubuh dan berada di rumah sebelum jam  21.00 adalah aturan tidak tertulis di keluarga kami. Tepat waktu adalah ajaran pokok Bapak (alm) yang mulai terkikis saat saya memasuki bangku kuliah. Lebih santai karena jauh dari keluarga. Kini, saat memiliki seorang junior, pola tepat waktu mulai saya perketat lagi. Karena kalau si kecil tidak terbiasa disiplin bangun pagi, maka telat ke kantor lah kami berdua. Rugi bandar, potong uang makan hahaha. 



No comments:

Post a Comment