Monday, May 16, 2016

Doing Outside the Box

Melakukan hal yang tidak biasa dilakukan. Bukan tentang comfort zone, tapi memperjuangkan passion yang dulu tak terpikir untuk direalisasikan.Doing Outside The Box.


Masuk dalam komunitas Sekolah Perempuan semakin menjerumuskan saya kedalam berbagai grup di FB maupun WA yang di penuhi dengan emak-emak berisik yang  luarbiasa semangatnya meng-empower dirinya sendiri untuk maju menuju sukses. Salah satu grup WA yang saya ikut TNB 1 (Tips Nulis dan Bisnis 1) yang digawangi mbak Diah Octavia. Grup ini sangat aktif, buka chat dari 09.00pagi hingga jam 09.00 malam penuh dengan obrolan emak-emak dari curhat bisnis, ngomongin makanan, janjian kopdar, promo Indscript training dan yang paling jempolan sharing kisah sukses dari para pebisnis baik yang sudah lama menikmati keberhasilan maupun yang belum genap setahun ikut PSC (Private Sales Coaching) dan berhasil melesatkan omset bisnisnya hingga  4 bahkan 10 kali lipat.

Salah satu sharing yang menarik adalah milik Teh Endah Dwianti owner Green Dream Mommy (GDM). Produsen kosmetik berbahan dasar alami, sehat dan halal. Menarik ya, baru dengar ada kosmetik model begitu. Selama ini sebenarnya saya bukan penggila make up. Ke kantor saja, hanya make up sederhana dan hilang saat terkena air wudhu kemudian malas re-touch ulang kemudian komandan SDI melotot hahaha. Peralatan make bekas Beauty Class 3 tahun lalu masih ada tuh, dipakai saat  mau show kondangan sajah.

Kembali ke produk GDM, menjadi menarik karena yang ditawarkan produk kosmetik produksi rumahan berbahan baku yogurht, rumput laut, apel , mawar, green tea dan bahan lain dengan  dipadu pengawet kosmetik yang aman, tanpa alkohol. Si empunya GDM terus menerus melakukan inovasi dan penyempurnaan komposisi produknya.

Selang seminggu dari sharing di grup TNB 1, bersegeralah saya pesan 3 produk total harga 141ribu untuk saya aplikasikan di muka sendiri. Iya kepikiran ingin jadi reseller tapi nanti setelah ada pembuktian pada muka ini J

Well, sudah sebulan nih menggunakan Greentea Cream Detoks, Glowing Collagen Soap(GCS) dan Lipbalm. Efeknya? Komedo jauh berkurang gegara Gream Detoks kombinasi  GCS, sedang lipbalm membuat bibir tidak kering. Tapi muka masih kasar dan berpori lebar, siap-siap pesan paket perawatan selanjutnya. Masker  dan Cream Yogurht


Dan semoga idul fitri nanti beneran muka lebih cling  tapi bukan karena S*n Light J


Saturday, May 14, 2016

Perempuan h3bat itu,Ibuku:-)

Ibu (saya memanggilnya Mak’e) , merupakan  perempuan dengan label ibu rumah tangga tulen. Bapak adalah pencari nafkah utama,sedang ibu adalah pengelola rumah tangga dan mendampingi kehidupan kami, lima orang anak.

Bapak dinas di Bek-Ang, bukan level perwira namun alhamdulillah tidak membuat kami hidup kekurangan. Secukupnya saja, namun masih bisa piknik tiap hari Minggu.
Iya hampir tiap Minggu pagi Bapak akan mengajak saya dan kakak laki-laki saya ke peternakan sapi dekat rumah kemudian pulang membawa sebotol susu sapi mentah dan sepotong besar daging sapi, atau kami akan pergi ke Taman Kyai Langgeng, berenang, atau kami akan ke Candi Borobudur, atau kami akan ke Candi  Mendut.

Ibu sedemikian pintar mengatur keuangan keluarga dengan gaji pensiun Bapak yang hanya lima digit namun  mampu menyekolahkan 3 dari 5 anaknya hingga sarjana. Jika saya  mengenang masa  itu, saya namakan ' masa hidup sederhana'. Padahal saat dulu menjalani, biasa saja. 

Biasa saja jika uang saku sekolah saya selama seminggu hanya cukup untuk jajan di kantin sekolah satu kali saja, lepas pelajaran olah raga.
Biasa saja ketika momen beli baju baru 2 potong hanya menjelang idul fitri. 
Biasa saja jika setiap hari menu makan hanya tahu,tempe, dan sebutir telur bagi empat. Menu mewah seperti sate atau ayam goreng hanya hadir sebulan sekali tepat di hari Bapak gajian.

Toh saya tetap bergembira ikut eskul pencak silat, kemah 3 hari di pantai Ayah, mendaki gunung Lawu, touring ke Ketep sampai  Boyolali.

Tak pernah saya dengar Ibu mengeluh tentang apapun. Hingga kini, saat tinggal sendiri di rumah besar, ibu menikmatinya sebagai cerita hidup. Ketika beliau merasa tidak enak badan, lebih memilih berdiam di rumah dan memanggil tukang pijat, ketimbang berkeluh kesah kepada kakak yang tinggal beda rumah.

Bapak pun sangat menghargai Ibu.Saya pernah dimarahi Bapak gara-gara protes sayur sop keasinan.Kata Bapak, wajar puasa, dan beliau tetap lahap menghabiskan semangkok sop dan tempe goreng tepung yang sudah dingin.

Sungguh indah kisah Bapak Ibu yang benar meng-Aamiin-i ' rumahku surgaku.

Cita-cita Ibu yang belum kesampaian, ke Tanah Suci.
Bismillah sehat terus ya, Bu, semoga segera di ijabahi.

Aamiin.

BPJS Bikin Baper #Part Two


Setelah dua kali periksa ke Bu Dokter cantik, linu gigi geraham Ayah sudah berkurang. Siap-siap cabut gigi, yeayyy. Saya tahu Ayah grogi, badan segede Captain Amerika tapi mental kalah kala disuruh duduk di kursi khusus pasien gigi. Tueng tueng ..

Memang dasar cerita BPJS ini menjadi serial. Bu Dokter tidak sanggup mencabut gigi geraham bungsu yang tinggal secuil itu. Katanya  karena sisa gigi sedikit, sedang akar gigi masih banyak dan posisi miring mengarah ke pipi. Parahnya gigi geraham bagian depan pun tertumbuk sehingga harus dicabut bersamaan. Waaww cabut satu gratis satu haha. Iya cabut dua gigi sekaligus, dan ini  sudah masuk ranah operasi kecil yang harus dilaksanakan di Rumah  Sakit.

Oke, hari Kamis pun dipilih, pagi hari Ayah rontgen ke Lab , langsung daftar ke Rumah Sakit atas rujukan Bu Dokter cantik. Pukul 13.00 Ayah disarankan langsung masuk kamar untuk observasi. Operasi baru dilaksanakan jam 17.00 dan selesai 17.30. Lancar !! Eaaa..

Tapi  walaupun  tergolong operasi kecil , biayanya cukup besar, begitu kata perawat saat saya minta naik kelas perawatan dari kelas II ke kelas I. Prosesnya mudah , hanya cukup tanda tangan saja. Prediksi awal biaya yang saya keluarkan tak lebih dari biaya selisih kamar.

Esok hari, baru Ayah boleh pulang. Observasi pasca operasi sesungguhnya hanya 4 jam, jadi jam 21.00  malam itu juga seharusnya sudah bisa pulang, namun karena kendala administrasi, baru esok siang baru turun rincian biaya.
Total biaya sekitar Rp.6,4 juta.
Cover BPJS Rp.4,6 juta
Kekurangan Rp.1,8 juta
Mahal juga ya kekurangannya , ternyata tidak hanya biaya kamar tapi juga biaya tindakan yang dianggap tidak dicover BPJS kelas II.

Secara umum pelayanan baik, petugas Rumah Sakit bahkan dokter berkenan menelpon pasien yang sudah mendaftar ke poli sehingga tidak perlu menunggu sangat lama di Rumah Sakit.
Well bersegera direumberskan Rp.1,8 juta ke kantor saja.

Friday, May 13, 2016

Perempuan Hebat Itu, Ibuku

Ibu ( saya memanggilnya Mak’e), merupakan  perempuan  dengan label  ibu rumah tangga tulen. Bapak adalah pencari kerja utama,sedang ibu adalah Menter I Dalam Negeri sekaligus Menteri Keuangan  yang sedemikian jago mengatur gaji  Bapak untuk kehidupan kami, lima orang anak. Bapak dinas di Bek-Ang, bukan level perwira,  namun alhamdulillah tidak membuat kami hidup kekurangan. Secukupnya saja, namun masih bisa piknik tiap hari Minggu. Iya hampir tiap Minggu pagi Bapak akan mengajak saya dan kakak laki-laki saya ke peternakan sapi dekat rumah kemudian pulang membawa sebotol susu sapi mentah dan sepotong besar daging sapi, atau kami akan pergi ke Taman Kyai Langgeng, berenang, atau kami akan ke Borobudur,atau kami akan ke Candi  Mendut.

Ibu sedemikian pintar mengatur keuangan keluarga dengan gaji pensiun Bapak yang hanya lima digit namun  mampu menyekolahkan 3 dari 5 anaknya hingga sarjana. Jika saya  mengenang masa  itu, saya namakan  masa hidup sederhana. Padahal saat dulu menjalani, biasa saja.
Biasa saja jika uang saku sekolah saya selama seminggu hanya cukup untuk jajan di kantin sekolah satu kali saja, lepas pelajaran olah raga.
Biasa saja ketika momen beli baju baru 2 potong hanya menjelang idul fitri.
Biasa saja jika setiap hari menu makan hanya tahu,tempe, telur dan ikan pindang. Menu mewah seperti sate atau ayam goreng hanya hadir sebulan sekali tepat di hari Bapak gajian.
Toh saya tetap bergembira ikut eskul pencak silat, kemah 3 hari di pantai Ayah, mendaki gunung Lawu, touring ke Ketep sampai  Boyolali.

Bapakpun sangat menghormati Ibu. Bapak selalu makan masakan ibu, apapun itu, bagaimanapun rasanya. Bapak pernah memarahi saya saat bilang ke Ibu kalau masakannya keasinan. Kata Bapak, tidak apa-apa, maklum puasa.
Tak pernah saya dengar ibu mengeluh tentang apapun Hingga kini, saat tinggal sendiri di rumah besar, ibu menikmatinya sebagai cerita hidup. Ketika beliau merasa tidak enak badan, lebih memilih berdiam di rumah dan panggil tukang pijat, ketimbang berkeluh kesah kepada kakak yang tinggal beda rumah.

Cita-cita ibu yang belum kesampaian, ke Tanah Suci.
Bismillah sehat terus ya, bu, semoga segera di ijabahi.

Aamiin.

Wednesday, May 11, 2016

Kangen Bapak

Bapak  ( Pak’e) adalah  pahlawan saya. Bapak yang mengajarkan saya disipilin, tanggung jawab dan percaya diri. Salah satu ajaran beliau yang saya ingat dan saya gunakan hingga kini, “ Jika sedang berbicara dengan orang lain, jangan menunduk, tatap mata lawan bicara. Karena jika menunduk berarti tidak percaya diri bahkan dianggap tidak menghargai”. Nasihat tersebut disampaikan menjelang keberangkatan saya ke lomba Matematika tingkat propinsi di Semarang, SMP kelas 2. Itu memang pertama kalinya saya ikut lomba hingga propinsi, biasanya hanya berhenti sampai tingkat kabupaten.
Bapak tidak galak, namun tegas dan disiplin. Bapak memberikan kepercayaan penuh kepada saya untuk memilih. Ketika lulus SMP beliau pernah menyampaikan agar saya meneruskan  SPK (Sekolah Perawat Kesehatan). Nyatanya ketika saya mendaftar ke SMU Negeri, beliau tetap mengiyakan. Pun ketika lulus SMU saya sudah terdaftar di Akbid (akademi kebidanan) Semarang, sekali lagi Bapak tidak melarang saat saya memilih kuliah di Jogja. Dan raut muka sumringah tak bisa disembunyikan hari itu, saat  menghadiri wisuda  sarjana saya di Graha Sabha Pramana. Alhamdulillah salah satu kebanggaan yang bisa saya berikan, saat itu.
Ketika kemudian saya bekerja, adalah kebiasaan saya pulang tiap akhir pecan, Jumat malam. Bapak dengan setia menunggu hingga lewat jam 21.00 malam. Tidak ada yang istimewa ketika saya sampai rumah dan mendapati Bapak sudah  tertidur di depan TV. Ketika menyadari saya sudah masuk pintu depan dan langsung mengunci pintu, ‘sudah pulang ?’ begitu ucap Bapak sembari mengangkat bantal dan berjalan ke dalam kamar, melanjutkan tidur.
Ritual Bapak-menunggu-saya-pulang-Jumat-malam, menjadi sangat dirindukan saat saya,kami sekeluarga kehilangan beliau. Bapak meninggal 25 November 2005 setelah dirawat di Rumah Sakit hampir 2 minggu . Tahun tersebut adalah tahun pertama saya mendapat uang gaji bulanan. Tahun pertama saya mendapat THR jelang Idul Fitri meskipun masih proporsional karena belum genap setahun bekerja. Uang THR itulah yang sebagiannya saya belikan sarung dan celana panjang untuk Bapak. Tepat  1 Syawal Bapak memilih mengenakan sarung baru dari saya untuk sholat di Masjid. Selanjutnya siang hari berganti dengan celana baru pemberian saya pula, saat akan keliling silaturahim. Kata ibu, tumben Bapak memakai sarung dan celana baru, biasanya beliau akan mengenakan sesuatu yang baru bukan pada  idul fitri hari pertama. Aah saya jadi bangga, betapa Bapak menghargai pemberian anak bungsunya yang tak seberapa.
Seminggu pasca Idul Fitri saat kerjaan kantor semakin padat, keluarga di rumah memberi kabar Bapak sakit. Saat itu hari Kamis siang dan saya berencana pulang pada Sabtu sore karena ada acara kantor di Sabtu pagi. Namun seorang teman mengingatkan saya untuk mendahulukan orang tua, karena pekerjaan bisa digantikan.
Sepuluh  hari di Rumah Sakit, Bapak dipanggil Allah Jumat , 25 November menjelang tengah malam. Kami ikhlaskan kepergian Bapak, meski rindu teramat sangat hingga kini tetap ada di hati. Hingga bulan ke tiga setelah kepergian Bapak , saya masih meneteskan air mata betapa menyesal belum banyak yang bisa saya berikan untuk Bapak. Hingga kini pun, ingin sekali mengenalkan Keenan, balita saya ke beliau. Bahwa dia punya Mbah Kakung yang luar biasa.

Sayang untuk Bapak.

Sunday, May 1, 2016

BPJS Bikin Baper #Part One

Memaksimalkan Manfaatnya BPJS Kesehatan
Tiga lembar kartu BPJS saya terima minggu lalu. What? Hanya berupa lembaran nih? Saya pikir kartu BPJS seperti kartu NPWP selayak kartu ATM BANK. Well, kata mas petugas bentuk kartu BPJS sekarang begini, yang begitu –tebal magnetic- untuk peserta Jamkesmas.



Voilaa..!Baiklah yang penting fungsinya, yang tercantum padai Nomor  Kepesertaan.
Dua hari kemudian, suami mencoba periksa ke dokter gigi. Betul, gratis ! Ndeso saya. Esok sorenya gantian saya yang periksa ke dokter gigi, untuk tambal gigi. Sayang nya si kecil tidak mau. Loh kok jadi sekeluarga ke dokter gigi. Iya, dokter gigi inilah alasan saya mendaftar BPJS secara mandiri setelah pihak kantor  tak ada kepastian kapan asuransi kesehatan aktif. Hanya BPJS Ketenagakerjaan yang sudah terdaftar, begitu cerita staf SDI kantor. Sengaja memilih kelas II karena tariff lebih murah dan masih memungkinkan naik kelas  rawat inap di Rumah Sakit.
Ceritanya dua tahun lalu gigi saya bermasalah. Ada lubang di gigi geraham bagian atas. Tak terlihat dan terasa, karena bukan bagian geraham tengah yang lubang melainkan bagian tepi agak kebelakang. Tidak terlihat jika saya berkaca. Hanya berasa jika lidah dijulurkan. Awalnya saya tahu gigi tersebut berlubang karena sering selilitan di lokasi tersebut.  Jadilah saya ke dokter gigi sebagai pasien umum. Tambal gigi kisaran Rp.300 ribu , lining karena gigi seri atas sensitive  dan bersih karang gigi juga kisaran Rp.300rbu. Mahilll. Habislah jatah uang makan sebulan ;-(
Nah karena sekarang gigi bagian bawah mau unjuk gigi, jadilah di BPJS kan lah dulu supaya bisa gretongan. Tidak beneran gratis dong ya..tapi bayar lebih murah untuk keluhan All in One. Iyess…tapi bagaimana pelayanannya ? Apakah sama ketika si dokter gigi belum berstatus dokter dengan fasilitas BPJS?
Dahulu ibu dokter muda itu amat ramah, menjelaskan dengan detil apa penyebab sakit dan bagaimana cara penanganan dan konsekuensi. Cantik  pula ! itu komentar suami.
Hadeuh Ayah, telat banget sudah dari lama dikasih tahu juga.
Pukul 17.30 mendaftar, masih ada 3 antrian. Saya memilih pulang dan mandi dulu karena rumah dekat, hanya 200m dari  klinik bu dokter.
Pukul 18.15, sudah ditunggu ternyata ( Suami diperiksa lebih dahulu karena gerahamnya semakin sakit. Sudah ingin dicabut, namun karena masih radang ditandai sakit, dokter tidak berani ambil resiko. Selanjutnya giliran saya,  diperiksa 30 detik, kumur, dibersihkan, ditambal, selesai ! Sepertinya tidak ada 15 menit. Astaga, takjub saya!. Ini memang geraham saya yang tak parah, atau dokternya sudah makin jago (dulu lebih dari setengah jam), antrian juga tidak banyak, atau memang standar pelayanan dokter BPJS begitu.
Hmmm semoga tambalan gigi gretongan ini awet.
Target selanjutnya, dokter THT dan Cek Lab ;-)