Tuesday, June 28, 2016

APAKAH PEREMPUAN BUTUH TRAINING


Apakah perempuan butuh training ?
Menurut saya tidak.
Mengapa ? Karena perempuan sudah cukup sibuk dengan kegiatan di luar rumah, mengurus keluarga  dan mengurus anak. Sudah habis waktu untuk ikut training ini itu. Cukuplah ilmu semasa sekolah sampai kuliah. Kalaupun perlu pengetahuan baru, tinggal klik
www.google.com. Selesai.
Pendapat saya itu serta merta meluruh, ketika suatu waktu log in facebook yang sudah sudah mati suri lebih dari 2 tahun. Saya menemukan iklan Sekolah Perempuan yang diadakan Indscript Training Centre yang menawarkan training dan konseling pembuatan buku selama 3 bulan. What ? Dalam 3 bulan bisa bikin sebuah buku ? Jadi tertarik.
Hanya butuh waktu dua minggu untuk kemudian memutuskan ikut. Daaaaan, di Sekolah Perempuan itulah berkenalan dengan perempuan-perempuan hebat lain, para mentor @indari mastuti @ida fauziah @Ana farida @julie Artha dan para peserta yang ternyata memiliki kesibukan luar biasa namun masih sempat untuk berbagi ilmu dan menimba ilmu. Dari situ juga belajar bagaimana manajemen waktu yang baik sehingga betapapun sibuknya seorang perempuan, ketika jadual tertata dengan baik, semua pekerjaan jadi enjoy.
Selanjutnya  semakin ketagihan berjejaring dan berilmu saat terjebak di Grup Tips Nulis dan Bisnis 1 yang dipimpin komandan cantik mbak @Diah Octivita Dwi Purwanti. Ada banyak ilmu dari aneka curhat dan sharing dari anggota grup maupun narasumber yang sengaja diundang. Sedemikian ramainya grup ini sehingga notifikasi bisa tembus 1200chats kalau saya sedang tidak sempat baca 1,5 hari  saja. Berkenalan dengan pebisnis dan penulis hebat yang bangkit dari bangkrut, yang belajar dari nol, yang bisnisnya sudah jaya namun tetap ingin menambah ilmu dan ibu-ibu yang berhasil mengaktfikan status facebooknya untuk sesuatu yang manfaat, bukan sekedar curhat, gossip apalagi menyebar fitnah. Ada banyak pilihan training yang ditawarkan Indscript . Berbayar ? Iya , namun bukan sekedar nilai uang yang dihitung , lebih dari itu kemanfaatan dari ilmu yang dibagi dan semangat yang terus di pompa dan saling simpati satu sama lain. Indahnya berbagi.
Pintar tidak untuk diri sendiri, tapi juga memintarkan orang lain.
Kaya tidak untuk kaya sendiri, tapi juga mengayakan orang lain.
Berkah berbagi ilmu, berkah berbagi rezeki.
Naaah jika dahulu saya sangat selektif memilih friendlist facebook, jika tidak sangat kenal tidak approve, maka kali ini beda, saya banyak add orang lain dan sebaliknya banyak permintaan friend request yang saya setujui. Rasanya dalam 3 hari ini sudah lebih dari 100 orang  teman baru di facebook, meski belum semua saya sapa.
Masih mau jadi perempuan biasa saja ? Yuk melejit bersama , jadi PEREMPUAN YANG BERDAYA.

Sunday, June 19, 2016

MENJADI PEREMPUAN BERDAYA



Berkenalan dengan orang baru itu menambah ilmu, memperpanjang umur J
Bulan lalu berkunjung ke salah satu relasi. Justru tidak bertemu dengan Pak Kaji (sapaan untuk orang yang dihormati dan sudah pergi haji), karena beliau sedang beristirahat. Bertemu dengan istri beliau, Bu Kaji dan salah satu anak, Tante Ve.


Menyenangkan sekali berbincang dengan mereka semua dalam kesempatan terpisah. Bu Kaji adalah perempuan berdaya yang mampu menyejajarkan langkah dengan kecepatan lari Pak Kaji. Dahulu mereka hanyalah pemasok batu split dan aspal kepada para kontraktor jalan. Dengan system kepercayaan, mereka mampu mendistribusikan banyak order ke berbagai proyek konstruksi jalan. Setahap demi setahap mereka mampu mandiri dan mendapat proyek sendiri. Bu kaji paham betul hitungan satu unit backhoe akan menghasilkan berapa kubik tanah atau pasir per jam. Berapa biaya yang dikeluarkan per jam. Alat pemecah batu akan menghasilkan berapa kubik batu split. Bahkan beliau juga hafal berapa harga spare part dari berbagai alat berat yang dimiliki. Sehingga beliau menyayangkan jika ada orang berduit asal saja membeli  alat berat tanpa menghitung secara rinci biaya operasional. Tak heran saat alat rusak sering di bodohi tukang bengkel yang tidak amanah dengan menaikkan harga service tidak manusiawi. Hasilnya tekor dan bangkrut.
 Iyah , pengalaman tidak bisa dilawan.

Sedangkan putri beliau, tante Ve merupakan pribadi yang supel dan menyenangkan. Cara penuturan beliau runut dengan senyum yang tak pernah lepas menambah pesona kecantikan dalam kesederhanaan perempuan berhijab masa kini.

Paling menarik saat bercerita lika-liku mendapat proyek perbaikan jalan tingkat propinsi. Saya baru tahu, ternyata sudah lebih dari 5 tahun mekanisme lelang proyek dilakukan secara online. Yup, para peserta lelang hanya perlu mantengin web www.lpse.jatengprov.go.id/eproc/  .Disana akan tertera ratusan proyek infrastruktur seluruh kabupaten/kota yang masuk kategori tanggungjawab propinsi. Begadang 3 malam sangat mungkin terjadi demi sending document ke banyak proyek yang bisa dikerjakan. Setelah upload data selesai tinggal menunggu pengumuman yang juga disiarkan via website. Pihak propinsi akan melakukan verifikasi data dan meninjau ke site untuk memastikan kapasitas pengaju proposal.
Keren ya, seharusnya dengan cara begini tidak ada lagi  proyek diatas Rp.200 juta dengan system setengah penunjukan atau menjadi pemenang tender sebelum pengumuman.

Eits,ternyata masih ada yang begituan, kata Bu Kaji. Iya, beliau pernah maju untuk suatu proyek  dengan melengkapi semua syarat yang tertulis. Seorang rekan memperingatkan untuk tidak perlu mengajukan diri pada proyek tersebut.
Dan benar , hanya beberapa jam menjelang pengumuman pemenang tender, tiba-tiba pihak dinas terkait mensyaratkan tenaga ahli geologi yang tidak dimiliki Bu Kaji.
Gagal.
Bukan mental pemenang jika hal itu membuat semangat beliau melempem, belum rezeki, begitu beliau menyampaikan.
Well, kerja keras, doa, ikhtiar adalah benar jalan menuju sukses. Lebih dari itu, jujur menjadi benteng utama.
Siap kerja cerdas ? Ayo !

Instagram : simply.imma (Rumah Cantik ESHA)